Pakar: Indonesia Perlu Jaga Hubungan Beradab dengan China Tanpa Ketergantungan

Jakarta (Riaunews.com) – Pakar hubungan internasional Indonesia Teuku Rezasyah menyoroti pentingnya Indonesia menjaga hubungan yang beradab dengan China, berlandaskan hukum dan saling menghargai. Hal itu disampaikannya dalam seminar Refleksi 2025: Relasi China, Asia Tenggara dan Indonesia yang digelar di Jakarta, Senin.

Rezasyah menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan China telah terjalin sejak ribuan tahun lalu, sehingga peran China tidak dapat dipungkiri dalam dinamika hubungan Indonesia dengan dunia internasional. Namun demikian, ia mengingatkan agar Indonesia tidak menggantungkan diri pada satu negara dalam menjalin hubungan bilateral.

“Indonesia itu terlalu besar untuk jadi ekor dari negara manapun,” kata Rezasyah. Menurutnya, Indonesia harus tetap bersinergi dengan semua negara, termasuk China, secara beradab, berdasarkan hukum, serta dengan prinsip saling menghormati.

Ia menambahkan, sinergi terbaik dalam hubungan bilateral dapat diwujudkan melalui penghormatan terhadap prinsip kedaulatan dan keutuhan wilayah masing-masing negara. Sikap tersebut dinilai penting agar hubungan internasional berjalan seimbang dan saling menguntungkan.

Dalam konteks kerja sama dengan China, Rezasyah juga menilai Indonesia perlu belajar dari kemajuan China di berbagai bidang. Pembelajaran tersebut, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, pembangunan yang bebas dari korupsi, serta keterpaduan antara pemerintah dan masyarakat.

Terkait hubungan dagang, Rezasyah menekankan perlunya perlindungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu bersaing di tengah dominasi produk China. Ia menyebut UMKM yang mencakup sekitar 80 persen pelaku ekonomi nasional perlu terus dididik, dilatih, dipermudah perizinan dan HAKI-nya, serta dibukakan akses jaringan ekspor agar lebih kompetitif.

Komentar