Bangkok (Riaunews.com) –Pemerintah Thailand menegaskan Bangkok tidak akan “ditekan atau dirugikan” dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN yang digelar Senin (22/12) di Malaysia, yang akan membahas konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Pernyataan ini disampaikan Wakil Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Maratee Nalita Andamo, Sabtu (20/12).
Maratee menyebut Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, akan memimpin delegasi Thailand. Ia menegaskan sikap Thailand tetap mengedepankan perdamaian dan menghormati kedaulatan negara lain, seraya menuntut Kamboja menunjukkan ketulusan untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan.
Di tengah upaya diplomasi, kedua negara saling melontarkan tuduhan. Militer Thailand menuduh Kamboja menggunakan kekerasan terhadap sasaran sipil dengan meluncurkan roket BM-21 yang menghantam permukiman dan Rumah Sakit Phanom Dong Rak. Sebaliknya, Kamboja menuduh Thailand membombardir wilayahnya menggunakan jet tempur F-16.
Menurut media Kamboja, jet Thailand juga menghancurkan Jembatan O’ Jik di perbatasan Provinsi Siem Reap dan Oddar Meanchey, serta menyerang wilayah sipil termasuk bangunan komersial dan sebuah sekolah dasar di Provinsi Pursat pada Sabtu (20/12).
Sementara itu, China turut mengambil peran diplomatik. Utusan Khusus China untuk Urusan Asia, Deng Xijin, mengunjungi Phnom Penh dan bertemu Perdana Menteri Kamboja Hun Manet. Kedua pihak menekankan perlunya gencatan senjata segera dan dialog damai sebagai satu-satunya jalan penyelesaian konflik.
Menurut otoritas Thailand, bentrokan telah menewaskan 21 tentara Thailand dan satu warga sipil, sementara Kamboja melaporkan 18 warga sipil tewas dan 78 lainnya terluka. Konflik ini kembali pecah meski sebelumnya kedua negara sempat menandatangani perjanjian damai pada Oktober, dalam sengketa perbatasan lama yang kerap memicu kekerasan.







Komentar