Nedra menyarankan agar setiap orang membuat kesepakatan dengan diri sendiri untuk tidak menjalani liburan dengan pola yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Jika menjadi tuan rumah, cobalah melakukan sesuatu yang berbeda. Jika bertamu, tentukan batas waktu hadir, misalnya pulang lebih awal atau justru datang lebih lambat dari biasanya.
Menurutnya, mengambil kendali atas liburan adalah hal penting. Seseorang perlu membiasakan diri dengan ketidaknyamanan dalam batas yang masih bisa ditoleransi. Contohnya, bila acara berlangsung empat jam, tak ada salahnya hanya hadir selama satu jam sesuai kemampuan diri.
Toleransi juga diperlukan ketika menghadapi anggota keluarga yang gemar membahas topik sensitif seperti politik. Nedra menekankan bahwa banyak orang sebenarnya hanya ingin didengarkan, bukan diajak berdebat. Karena itu, mengalihkan topik pembicaraan dengan cara halus dinilai lebih bijak.
Ia menyarankan penggunaan humor atau kalimat ringan untuk memotong obrolan yang berpotensi memicu konflik, sehingga suasana tetap santai. Selain itu, jika mengajak pasangan atau teman ke acara keluarga, penting memberi gambaran terlebih dahulu tentang karakter orang-orang yang akan hadir.
Terakhir, Nedra mengingatkan agar setiap orang peka terhadap perubahan energi dalam diri. Saat merasa tidak nyaman, luangkan waktu untuk introspeksi, baik dengan menuliskannya, menenangkan diri sejenak, atau sekadar berbicara dalam hati, demi menjaga kesehatan mental selama liburan.






Komentar