Generasi Muda Takut Nikah di Tengah Kapitalisme, Bagaimana Solusi Islam?

Opini, Seputar Islam311 Dilihat

Oleh Sri Lestari, ST

Akhir-akhir ini media sosial diramaikan dengan berita, generasi takut nikah. Generasi muda lebih memilih menunda pernikahan daripada mereka hidup dalam kemiskinan. Ramainya pemikiran seperti ini dikalangan generasi muda bukan tanpa alasan. Banyak alasan yang menguatkan pemikiran mereka. Banyak anak muda menilai kestabilan ekonomi lebih penting daripada segera menikah.

Mahalnya biaya hidup, sulitnya menjangkau hunian, dan ketatnya persaingan dalam mencari kerja menjadi alasan utama bagi para pemuda untuk menunda pernikahan. Ditambah ramainya narasi “Marriage is Scary” lebih memperkuat ketakutan pemuda untuk menikah. Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 69,75% pemuda usia 16–30 tahun tercatat belum menikah (Eksplora.id, 11/02/2025).

Di era kapitalis saat ini, menjadi kewajaran jika muncul rasa ketakutan untuk miskin. Pasalnya semua kebutuhan dipenuhi oleh masing-masing individu. Mulai dari sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan kebutuhan lainnya. Sulitnya mencari pekerjaan, upah rendah dan tingginya biaya hidup.

Dalam sistem kapitalis negara tidak hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat karena peran negara hanya sebagai regulator. Penyedia lapangan pekerjaan bukanlah negara namun para pengusaha swasta, sehingga menjadi kewajaran lapangan pekerjaan tidak terbuka lebar untuk semua kalangan masyarakat. Dari peran negara seperti ini, telah tampak bahwa negara berlepas tangan dalam menjamin kesejahteraan masyarakat sehingga beban hidup dipikul oleh individu masyarakat.

Sistem pendidikan di era kapitalis menumbuhkan gaya hidup materialis. Dimana pandangan hidup generasi muda diukur dengan materi. Generasi muda memandang bahagia jika mereka memiliki cukup materi, mereka akan bisa hidup bahagia berumah tangga tatkala mereka sudah memiliki kemapanan kerja, tempat tinggal dan memiliki banyak uang. Pernikahan dipandang beban bukan sebagai jalan kebaikan dan untuk melanjutkan keturunan. Maraknya pengaruh media liberal juga menjadi faktor yang ikut andil menguatkan alasan generasi muda untuk menunda pernikahan.

Berbeda halnya dengan sistem Islam. Selain agama ritual, Islam memiliki pengaturan yang khas terkait pengurusan masyarakat. Peran negara dalam Islam sebagai pelindung dan pengurus umat. Negara hadir dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Kehadiran negara sebagai pengurus rakyat dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dengan cara negara memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar. Misal, negara membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi masyarakat agar mereka mudah memenuhi kebutuhan dasar mereka. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw:

“Sesungguhnya imam/khalifah adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya, ia harus bertanggung jawab atasnya.” (HR Muslim).

Sistem ekonomi yang berjalan di tengah-tengah umat adalah sistem ekonomi Islam. Negara akan melayani pinjaman tanpa bunga kepada masyarakat bagi yang membutuhkannya. Negara ikut andil dalam mengatur pendistribusian barang dan jasa di tengah -tengah umat sehingga pendistribusian merata. Selain itu negara akan mengatur kepemilikan umum seperti sumberdaya alam dikelola oleh negara bukan pihak swasta ataupun asing dan hasilnya untuk kepentingan masyarakat. Seperti untuk memberikan fasilitas gratis pada kesehatan, pendidikan, perbaikan jalan, pembangunan fasilitas umum dan untuk kebutuhan masyarakat lainnya.

Sistem pendidikan dalam Islam juga khas. Hasil pendidikannya melahirkan peserta didik yang berkarakter memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islam. Para generasi dibentuk menjadi generasi yang memiliki keimanan yang baik, sehingga ketika mereka menjalani kehidupan tidak menjadi pemuda yang mudah putus asa, tidak menjadi pemuda yang terjebak pada materialis. Dalam Islam generasi tidak dibentuk sebagai sosok yang individual namun menjadi generasi penyelamat umat.

Negara akan hadir dalam membersamai peran keluarga. Negara memberikan pemahaman kepada generasi bahwa pernikahan adalah ibadah dan penjagaan keturunan. Dengan hadirnya peran negara dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat, akan membuat generasi lebih memahami makna pernikahan, generasi tidak akan memiliki rasa takut untuk menikah. Dari sini tampak jelas, Islam sebagai sistem kehidupan memiliki pengaturan yang khas terkait kehidupan. Hanya sistem Islam yang mampu memberikan ketenangan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Komentar