Oleh Sri Lestari, ST
Ditengah memperjuangkan nasibnya, kini Gaza diperlihatkan tindakan yang menyakitkan dari sikap negeri muslim, Kazakhstan salah satunya.Tepat pada tanggal 6 November 2025, Kazakhstan memulihkan hubungan dengan Israel dengan bergabung dalam Perjanjian Abraham (Abraham Accords).
Sebenarnya hubungan diplomatik Kazakhstan-Israel telah terjalin sejak 1992, yang diperkuat melalui kunjungan pejabat tinggi dan kedutaan besar kedua negara.
Pada 2020, Amerika meluncurkan proses untuk memulihkan hubungan Israel-Arab dan menandatangani serangkaian dokumen yang dikenal sebagai Abraham Accords. Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko bergabung dalam perjanjian itu.
Melihat sikap negeri-negeri muslim sungguh menyakitkan, tampak secara halus mereka melakukan penghianatan terhadap Palestina. Ditengah gencatan senjata yang dilakukan oleh Zionis terhadap Gaza, mereka malah menjalin kerjasama.
Sementara itu, Pada Jumat (7/11/2025) Turki mengumumkan penerbitan surat penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta sejumlah pejabat senior Israel atas dugaan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza dan menandai eskalasi terbaru ketegangan diplomatik kedua negara yang sebelumnya sudah renggang akibat perang di Jalur Gaza. Kantor kejaksaan Istanbul menyatakan total ada 37 tersangka yang menjadi target.
Tindakan yang dilakukan Turki adalah tindakan pembelaan terhadap Gaza namun sungguh disayangkan tindakan tersebut hanya kecaman semata tanpa tindakan. Dalam waktu yang bersamaan Zionis masih leluasa untuk melakukan penyerangan terhadap Gaza.
Sudah bertahun-tahun Gaza diserang oleh Zionis, seharusnya negeri-negeri muslim menyadari bahwa Gaza adalah bagian dari tubuh mereka, seharusnya mereka merasakan apa yang dirasakan oleh Gaza, namun sepertinya tidak demikian. Negeri-negeri muslim seharusnya juga menyadari bahwa normalisasi hubungan dengan Israel adalah perangkap Amerika dan sekutunya untuk melegalkan penjajahan Zionis terhadap Gaza.
Amerika sebagai negara adidaya sangat menghendaki seluruh negera-negara Arab untuk bergabung dengan Abraham Accords. (Al Jazeera, 7-8-2025).
Berbagi langkah dan tawaran diberikan oleh Trump sebagai Presiden negara adidaya. Mulai dari kerjasama ekonomi dan perdagangan dengan Kazakhstan, Turki, dan UEA. Tawaran juga mencakup pencabutan sanksi yang tidak hanya diberikan kepada Turki, tetapi juga ditawarkan untuk Suriah.
Jika kita telisik secara mendalam abainya negeri-negeri muslim terhadap Gaza dan mudahnya negeri-negeri muslim menerima tawaran Barat demi kepentingan mereka, fakta ini menunjukkan bahwa negeri-negeri muslim sudah terkungkung dengan ide nasionalisme.
Ide nasionalisme merupakan ide yang lahir dari sistem kapitalis yakni sistem yang memisahkan antara agama dari kehidupan. Sistem kapitalis merupakan sistem yang diemban oleh Barat. Maka dari itu Barat sangat semangat untuk menularkan ide-idenya ke negeri-negeri muslim.
Ide nasionalisme sangat bahaya bagi negeri-negeri muslim, karena ide ini membuat negeri-negeri muslim hanya memikirkan kepentingan dan kekuasaannya saja, mereka tidak peduli dengan nasib muslim Palestina. Pembelaan yang mereka lakukan hanyalah narasi- narasi kosong, faktanya dalam waktu yang sama mereka menormalisasi hubungan dengan penjajah.
Muslim Palestina hanya membutuhkan solusi dan perlindungan yang nyata untuk menghentikan genosida dari Zionis. Solusi nyata yang dibutuhkan adalah jihad fisabilillah. Hanya dengan jihad Zionis dapat diusir dari bumi Palestina dan dikalahkan. Jihad akan bisa terlaksana jika ada sistem Islam yakni sistem yang didalamnya diterapkan hukum-hukum Islam secara totalitas. Pemimpin dalam sistem Islam memiliki peran sebagai pengurus dan pelindung rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai, (orang-orang) akan berperang di belakangnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Hadirnya sistem Islam tidak hanya muslim Palestina yang terlindungi namun seluruh negeri-negari muslim juga akan terlindungi. Sejatinya saat ini negeri-negeri muslim sudah dijajah secara pemikiran oleh Barat, namun mereka tidak menyadarinya. Maka dari itu, sudah waktunya kaum muslim di seluruh penjuru dunia menyadari bahwa mereka di jajah baik secara fisik maupun pemikiran dan harus menyadari kaum muslim akan bangkit secara hakiki jika adanya sistem Islam.
Umat harus menyadari pentingnya perjuangan untuk mengembalikan kembali sistem Islam sesuai dengan metode Rasulullah SAW, sejatinya sistem ini sudah pernah diterapkan sejak Rasulullah SAW hijrah ke Madinah hingga di Turki Utsmani. Tepat pada tahun 1924 M, sistem Islam runtuh ditangan Mustafa Kamal Attaturk. Dengan demikian tampak nyata umat butuh perlindungan yang nyata yakni sistem Islam.







Komentar