Palestina (Riaunews.com) – Sejumlah pemukim Israel menyerang warga Palestina, aktivis, dan jurnalis yang tengah memanen zaitun di Tepi Barat, wilayah yang diduduki Israel, pada Sabtu (8/11). Beberapa orang dilaporkan terluka, termasuk jurnalis Reuters.
Serangan terjadi di dekat desa Beita, selatan Kota Nablus, kawasan yang dalam beberapa tahun terakhir dikenal sebagai titik rawan kekerasan pemukim. Para saksi mata menyebut, para penyerang menggunakan tongkat, pentungan, dan batu berukuran besar untuk menyerang sekitar 30 warga desa, aktivis, dan 10 jurnalis yang hadir untuk meliput kegiatan panen.
Fotografer Reuters Raneen Sawafta menjadi salah satu korban yang dipukuli berkali-kali saat berusaha melindungi diri. Rekannya, Grant Bowden, yang bertugas sebagai penasihat keamanan Reuters, turut dipukuli ketika mencoba menolongnya. Peralatan kamera keduanya rusak parah akibat serangan tersebut.
Aktivis hak asasi manusia asal Israel, Jonathan Pollak, menyebut sekitar 50 pemukim terlibat dalam serangan itu. “Mereka memukuli Raneen tanpa ampun, melemparinya batu bahkan ketika dia sudah terjatuh, dan menyerang siapa pun yang mencoba menolong,” ujarnya. Para pelaku disebut berteriak dalam bahasa Ibrani dan memerintahkan para korban untuk pergi.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan telah mengirim tentara ke lokasi, namun hanya menyebut kejadian itu sebagai “laporan konfrontasi”. Dalam pernyataannya kepada Reuters, militer Israel mengatakan, “IDF mengutuk setiap tindakan kekerasan dan akan terus beroperasi untuk menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah tersebut,” sambil menambahkan bahwa polisi akan meninjau lebih lanjut insiden itu.
Namun, sejumlah saksi menegaskan tidak ada tentara Israel yang terlihat di tempat kejadian saat serangan berlangsung. Insiden ini menambah panjang daftar kekerasan pemukim terhadap warga Palestina yang meningkat selama musim panen zaitun tahun ini, serta sejak pecahnya perang di Gaza dua tahun lalu.







Komentar