Israel Belum “Puas” di Gaza, Ancam Perluas Peperangan ke Lebanon

Tel Aviv (Riaunews.com) – Ketegangan antara Israel dan Hizbullah kembali memanas setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memperingatkan bahwa Tel Aviv siap memperluas dan memperkeras operasi militernya di Lebanon selatan. Peringatan itu disampaikan sehari setelah serangan udara Israel menewaskan empat orang di wilayah tersebut.

Katz menuding pemerintah Lebanon gagal melaksanakan kewajiban untuk melucuti senjata Hizbullah, kelompok bersenjata yang didukung Iran. “Hizbullah bermain dengan api, dan presiden Lebanon sedang mengulur waktu. Kami tidak akan membiarkan ancaman apa pun terhadap warga di utara,” ujar Katz, dikutip dari The Guardian, Senin (3/11/2025).

Militer Israel (IDF) mengonfirmasi serangan udara di Kfar Reman, Lebanon selatan, yang menewaskan empat anggota pasukan elite Hizbullah, Radwan Force. Target utama operasi tersebut adalah kepala logistik unit yang terlibat dalam pengiriman senjata dan pembangunan kembali infrastruktur militer Hizbullah. Media Lebanon mengidentifikasi korban sebagai Jawad Jaber, Hadi Hamid, Abdullah Kahil, dan Muhammad Kahil.

Meski kehilangan banyak kekuatan setelah lebih dari setahun berperang, Hizbullah masih memiliki kapasitas militer dan finansial yang signifikan. Israel sebelumnya, pada September 2024, menewaskan pemimpin lama Hizbullah, Hassan Nasrallah, dalam serangkaian serangan besar yang juga menewaskan banyak petinggi kelompok itu.

Dalam perjanjian gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat pada November 2024, Lebanon berjanji hanya aparat negara yang diperbolehkan memegang senjata. Namun, pelaksanaan perjanjian berjalan tersendat. Beirut kini berada di bawah tekanan dari AS, Arab Saudi, dan kelompok politik dalam negeri untuk menegakkan kesepakatan tersebut.

Sementara itu, Hizbullah menolak pelucutan senjata penuh dan menegaskan bahwa klausul tersebut hanya berlaku untuk wilayah Lebanon selatan. Kelompok itu memperingatkan akan melawan jika Israel memperluas operasi militernya, menandakan potensi eskalasi baru di kawasan yang masih rapuh akibat perang berkepanjangan.

Komentar