Lewis Hamilton Akui Musim Pertamanya di Ferrari Belum Sesuai Ekspektasi

Motorsport245 Dilihat

London (Riaunews.com) – Musim perdana Lewis Hamilton bersama Ferrari belum berjalan sebaik yang diharapkan. Meski sempat menorehkan kemenangan dalam akhir pekan sprint di Cina, performanya sepanjang 2025 lebih banyak diwarnai kesulitan ketimbang kesuksesan. Sementara itu, rekan setimnya Charles Leclerc masih mendominasi hasil dengan tujuh podium dan satu pole position sejauh musim ini.

Dalam wawancara yang dipublikasikan di laman resmi Ferrari, juara dunia Formula 1 tujuh kali itu mengakui bahwa bergabung dengan tim legendaris asal Italia membawa dampak emosional dan tekanan yang jauh lebih besar dari perkiraannya. “Saya tahu bahwa menyelaraskan merek kami akan menjadi hal besar. Namun, tetap saja mengejutkan ketika Anda menyadari, ‘Ini bahkan lebih dahsyat dari yang saya bayangkan’,” ujar Hamilton.

Ia menambahkan bahwa tekanan untuk menang di Ferrari berbeda dari tim lain yang pernah ia bela. “Ada banyak hal positif, tetapi juga banyak tanggung jawab. Semua orang berharap menang seketika, namun Roma tidak dibangun dalam sehari. Kita perlu waktu untuk menemukan ritmenya,” katanya.

Hamilton juga menyoroti tantangan beradaptasi dengan tim baru setelah 12 tahun bersama Mercedes. “Tidak banyak orang yang benar-benar tahu bagaimana F1 bekerja dari dalam. Anda baru bisa memahami ketika menjadi bagian dari sebuah tim. Jadi saya tidak menyalahkan siapa pun yang tak mengerti. Fokus saya hanya pada hal-hal yang bisa saya kendalikan: persiapan, kerja sama, dan sikap positif setiap hari,” ujarnya.

Dalam klasemen sementara, Leclerc menempati posisi kelima dengan 210 poin, sementara Hamilton berada di urutan keenam dengan 146 poin setelah 20 Grand Prix. Meski tertinggal cukup jauh, Hamilton tetap menunjukkan optimisme terhadap masa depannya bersama Ferrari.

Berbicara tentang makna mengenakan warna merah khas Ferrari, Hamilton menyebutnya pengalaman istimewa. “Merah adalah salah satu warna favorit saya. Ferrari itu sejarah, budaya, dan hasrat. Saya sempat khawatir soal perbedaan budaya karena saya orang Inggris, tetapi semua orang di sini berpikiran terbuka. Pada akhirnya, ini soal hubungan antarmanusia. Ketika Anda membangun jembatan, semua hal lain akan hilang,” pungkasnya.

Komentar