Sharm El-Sheikh (Riaunews.com) – Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengumumkan bahwa Mesir akan menjadi tuan rumah konferensi internasional rekonstruksi Gaza setelah tercapainya gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran sandera antara Israel dan Palestina. Pengumuman ini disampaikan pada Selasa (14/10/2025), seperti dilaporkan Daily Sabah.
Al-Sisi menyebut Mesir akan bekerja sama dengan Amerika Serikat serta berkoordinasi dengan mitra regional untuk memastikan keberhasilan rekonstruksi. Konferensi tersebut akan menitikberatkan pada pemulihan awal serta pembangunan jangka panjang di wilayah Gaza yang hancur akibat dua tahun perang.
Sehari sebelumnya, Mesir bersama AS, Turki, dan Qatar menandatangani deklarasi bersama sebagai penjamin kesepakatan Gaza. Langkah ini diharapkan menjadi titik awal berakhirnya konflik yang telah menewaskan ratusan ribu warga dan menghancurkan lebih dari 90 persen infrastruktur Gaza.
Menurut penilaian gabungan Bank Dunia, Uni Eropa, dan PBB, biaya pemulihan Gaza diperkirakan mencapai US$53 miliar atau sekitar Rp878 triliun. Dari jumlah itu, US$20 miliar (Rp331,3 triliun) dibutuhkan dalam tiga tahun pertama untuk memulihkan sektor-sektor utama, terutama perumahan yang menjadi sumber kerugian terbesar.
Sementara itu, kerusakan pada sektor kesehatan mencapai lebih dari US$7 miliar (Rp115,9 triliun). Banyak rumah sakit di Gaza kini tidak berfungsi akibat rusaknya fasilitas dan kekurangan pasokan medis. Sistem air dan energi pun nyaris kolaps, membuat jutaan warga kehilangan akses terhadap air bersih dan pendidikan.
Para ahli menilai, proses rekonstruksi Gaza akan menjadi tugas jangka panjang dan kompleks, serta hanya dapat berhasil jika Israel melonggarkan pembatasan terhadap masuknya bahan bangunan dan bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.







Komentar