Hamas Minta Mesir Jadi Penjamin dan Pengawas Gencatan Senjata di Gaza

Gaza (Riaunews.com) – Hamas meminta Mesir memberikan jaminan dan mekanisme pengawasan terhadap pelaksanaan gencatan senjata di Gaza berdasarkan rencana 20-poin yang diajukan Amerika Serikat (AS). Permintaan itu disampaikan oleh sejumlah narasumber Palestina pada Senin (6/10), di tengah proses negosiasi tidak langsung antara Hamas dan Israel yang kembali dimediasi di Kairo.

Menurut sumber diplomatik, delegasi Hamas yang dipimpin pejabat senior Khalil al-Hayya bertemu dengan pejabat Dinas Intelijen Umum Mesir untuk membahas kesepakatan tersebut. Dalam pertemuan itu, Hamas mengutarakan keraguan terhadap komitmen Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam mematuhi kesepakatan gencatan senjata.

Al-Hayya diketahui melakukan perjalanan ke Mesir untuk pertama kalinya sejak lolos dari upaya pembunuhan di Doha bulan lalu. Dalam perundingan kali ini, Hamas menyatakan kesediaannya membebaskan seluruh sandera Israel yang ditangkap sejak 7 Oktober 2023, sesuai dengan usulan yang disampaikan oleh pemerintah AS.

Meski begitu, Israel menegaskan Hamas masih menahan 48 sandera, termasuk 20 yang diyakini masih hidup. Namun, hingga kini Hamas belum menanggapi syarat pelucutan senjata yang ditekankan Israel sebagai bagian penting dari perjanjian damai. Seorang pejabat keamanan Mesir mengatakan, Hamas meminta jaminan penghentian perang secara total dan penarikan pasukan Israel dari Gaza sebelum menerima ketentuan lain dalam perjanjian.

Pejabat itu juga mengonfirmasi bahwa delegasi Israel telah tiba di Mesir, sementara mediator dari AS dijadwalkan datang pada Selasa (7/10) atau Rabu (8/10). Negosiasi direncanakan berlangsung selama tiga hari dengan harapan mencapai kesepakatan final menjelang peringatan dua tahun konflik Gaza.

Di sisi lain, serangan udara Israel masih terus berlanjut. Kantor berita Palestina WAFA melaporkan 21 jenazah dan 96 orang luka-luka dibawa ke rumah sakit di Gaza dalam 24 jam terakhir. Total korban tewas sejak awal konflik telah mencapai 67.160 jiwa, dengan sedikitnya 169.679 orang luka-luka, menandakan krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di wilayah tersebut.

Komentar