Jakarta (Riaunews.com) – Kinerja penjualan mobil di pasar domestik masih melemah sepanjang Januari–Agustus 2025. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan wholesales hanya mencapai 500.951 unit, turun 10,6% dibanding periode yang sama 2024 sebanyak 560.552 unit. Penjualan ritel dari diler ke konsumen juga terkoreksi 10,7% menjadi 522.162 unit, dari sebelumnya 584.847 unit.
Pakar otomotif sekaligus akademisi ITB, Yannes Martinus Pasaribu, menilai pelemahan ini terutama dipicu oleh turunnya daya beli kelas menengah. “Selain penurunan daya beli, persaingan dari merek impor dan lambatnya adopsi kendaraan listrik akibat minim stimulus baru juga membebani penjualan otomotif nasional,” ujarnya.
Menurut Yannes, pemerintah perlu memperpanjang insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk kendaraan hybrid (HEV) dan listrik murni (BEV) hingga akhir 2025. Ia juga mendorong revisi kebijakan perpajakan agar lebih terintegrasi. “Opsen pajak daerah jangan sampai menekan harga kendaraan. Beban pajak tinggi dari PPnBM, PPN, hingga bea masuk suku cadang perlu dievaluasi karena membuat harga mobil domestik kurang kompetitif,” jelasnya.
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, berharap kondisi perekonomian segera pulih agar pasar kembali bergairah. “Kami berharap situasi segera normal sehingga industri otomotif bisa berjalan lancar, dan penjualan meningkat kembali,” kata Jongkie.
Gaikindo optimistis pasar otomotif bisa terdongkrak lewat gelaran pameran. Setelah sukses menggelar GIIAS Tangerang dan Surabaya, asosiasi masih menyiapkan sejumlah agenda hingga akhir tahun, seperti GIIAS Semarang (24–28 September), GIIAS Bandung (1–5 Oktober), GIIAS Makassar (5–9 November), serta Gaikindo Jakarta Auto Week (21–30 November 2025).
Industri menilai ajang pameran ini penting untuk menjaga momentum penjualan, sekaligus menarik minat konsumen di tengah tren pasar yang masih menantang.







Komentar