Gaza (Riaunews.com) – Israel bersiap memindahkan paksa warga Gaza utara ke selatan dengan alasan keselamatan jelang serangan baru. Militer Israel menjanjikan tenda dan peralatan perlindungan melalui penyeberangan Kerem Shalom dengan dukungan PBB dan lembaga bantuan internasional. Namun, PBB menegaskan relokasi itu hanya akan menambah penderitaan warga Gaza.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Gaza sebagai benteng terakhir Hamas dan menegaskan relokasi sebagai langkah menuju zona aman. Badan PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan menyatakan tidak ada wilayah aman di Gaza, termasuk bagian selatan, meski mereka berencana memanfaatkan relokasi untuk menyalurkan lebih banyak bantuan.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memastikan rencana serangan besar masih dalam tahap perumusan. Faksi Jihad Islam menilai rencana Israel menduduki Kota Gaza sebagai olok-olok terhadap konvensi internasional. Selama sepekan terakhir, pasukan Israel menggencarkan operasi di pinggiran Kota Gaza dengan serangan udara dan tank di Zeitoun serta Shejaia.
Perang di Gaza berkecamuk sejak Oktober 2023 setelah serangan Hamas menewaskan 1.200 orang di Israel dan menyandera ratusan lainnya. Israel mengklaim serangan untuk membasmi Hamas, tetapi ofensif mereka sudah menewaskan lebih dari 61 ribu warga Gaza, melukai ratusan ribu orang, serta menghancurkan fasilitas vital hingga memicu bencana kelaparan.







Komentar