Prabowo: Permintaan Coklat Indonesia Naik, Eropa Butuh Komoditas Kita

Permintaan Melonjak Seiring Dengan Harga Coklat Dunia yang Naik

Solo (Riaunews.com) – Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa sejumlah negara di Eropa tengah membutuhkan komoditas unggulan dari Indonesia, khususnya coklat. Permintaan terhadap produk ini melonjak seiring meningkatnya harga di pasar global akibat wabah yang menyerang tanaman coklat di Amerika Latin dan Afrika.

Hal tersebut disampaikan Prabowo usai bertemu dengan Presiden RI ketujuh, Joko Widodo (Jokowi), di kediaman Jokowi, Minggu (20/7/2025). Dalam pertemuan itu, keduanya membahas kondisi komoditas strategis nasional serta tantangan dan peluang yang dihadapi Indonesia.

“Mereka butuh komoditas kita, dan ternyata harga coklat dunia lagi tinggi dan banyak (negara) berharap coklat kita. Kita juga harus segera pembibitan baru, peremajaan baru,” ujar Prabowo.

Menurut Presiden, Indonesia telah memulai proses pembibitan dan peremajaan tanaman coklat untuk mengantisipasi peningkatan permintaan global. Ia menyebut, kenaikan harga komoditas ini dipicu gangguan produksi di kawasan penghasil utama dunia.

“Karena ternyata harga coklat naiknya sedikit di dunia, karena rupanya di Amerika Latin dan Afrika mungkin ada wabah,” ucapnya.

Prabowo menambahkan bahwa wabah tersebut telah menyebabkan kerusakan serius pada pohon coklat di dua kawasan utama tersebut. Situasi ini, menurutnya, juga diamati secara langsung oleh Presiden Jokowi.

Selain isu komoditas, kedua pemimpin juga berdiskusi tentang capaian pembangunan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Prabowo menilai keberhasilan yang diraih pemerintah saat ini tak lepas dari pondasi yang telah dibangun selama satu dekade kepemimpinan Jokowi.

“Sebagian itu juga beliau yang rintis, seperti perundingan dengan Uni Eropa sudah berjalan 10 tahun. Jadi beliau (Jokowi) ngerti itu bagaimana,” ungkap Prabowo.

Kondisi ini, kata Prabowo, menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di pasar global, terutama dalam sektor pertanian dan komoditas ekspor.

Komentar