Menyatukan Pilar Ekonomi Syariah: Dewan Pakar MES DIY Bahas Sinergi Lintas Sektor

Utama941 Dilihat
Dewan Pakar MES DIY Bahas Sinergi Lintas Sektor

Yogyakarta(Riaunews.com) – Di tengah dinamika ekonomi nasional dan semakin tingginya kebutuhan akan sistem ekonomi yang inklusif dan berkeadilan, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Wilayah DIY terus menunjukkan peran aktifnya dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah berbasis komunitas.

Bertempat di kediaman Drs. H. Syafaruddin Alwi, M.S., tujuh tokoh Dewan Pakar MES DIY menggelar Rapat Strategis pada Kamis, 26 Juni 2025 pukul 09.00–11.30 WIB. Agenda utama rapat ini adalah membahas arah kebijakan penguatan ekosistem ekonomi syariah lintas sektor, mulai dari literasi halal, pengembangan UMKM, hingga desa wisata ramah muslim.

Acara diawali dengan sambutan Ketua Umum MES DIY. Dalam sambutannya, Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec. selaku Ketua Umum MES DIY, menegaskan bahwa forum Dewan Pakar merupakan ruang strategis untuk merumuskan arah kebijakan organisasi yang bersifat jangka panjang dan kolaboratif. “Masukan dari Dewan Pakar akan menjadi acuan program-program unggulan MES DIY, yang harus bisa menyentuh langsung kebutuhan umat dan mendorong sinergi antar lintas sektor yang dimiliki MES DIY ujarnya.

Acara selanjutnya penyampaian materi oleh Drs. H. Syafaruddin Alwi, M.S., terkait “Value Chain Harus Jadi Konsentrasi Utama”. Beliau juga menyampaikan pentingnya konsistensi dalam membangun ekosistem ekonomi syariah. Beberapa poin strategis yang ia sampaikan meliputi:

• Konsekuensi dan konsistensi dalam mengembangkan ekosistem halal
• Standarisasi halal yang jelas dan berbasis LSP
• Peningkatan kesadaran (awareness) terhadap produk halal
• Membangun gaya hidup halal dan higienis
• Penguatan rantai nilai halal dari hulu ke hilir
• Perluasan literasi dan pendampingan UMKM secara berkelanjutan

Dalam konteks tersebut, beliau menekankan bahwa sektor keuangan komersial (perbankan syariah, pasar modal, LK non-bank), sektor keuangan sosial (zakat, sedekah, wakaf), dan sektor riil industri halal (UMKM, bahan baku, kewirausahaan) harus disinergikan dalam satu sistem terintegrasi. Materi selanjutnya oleh Tazbir Abdullah, S.H., M.Hum. dimana poin poin nya pada 1.) Pengembangan Desa Wisata Ramah Muslim di DIY. 2.) Perintisan program SantriMart sebagai etalase distribusi produk halal pesantren dan komunitas. 3.) Event Promosi Produk UMKM Halal secara berkala. 4.) Akselerasi sertifikasi halal untuk UMKM DIY melalui kolaborasi multistakeholder.

Acara berlanjut dengan Diskusi Pakar. Sesi diskusi yang dipandu oleh Dandah Hermawan selaku Sekretaris Umum MES DIY menghadirkan berbagai pandangan reflektif dan solutif dari para pakar. Berikut beberapa pandangan dan insight kunci yang mencuat:

• Prof. Dr. Muhammad, M.Ag. menegaskan pentingnya masjid sebagai pusat edukasi ekonomi syariah, serta mengusulkan Jogja menjadi pilot project sekolah perintis ekonomi syariah.

• Dr. Dumairy, M.A. mengajak agar kampanye “Halal itu Sehat” dikedepankan. Ia juga mendorong label halal yang transparan, lengkap dengan nomor registrasi resmi.

• Prof. Edy Suandi Hamid menekankan bahwa literasi ekonomi syariah harus menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan, tidak berhenti pada tataran konsep.

• Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd. mengusulkan pemetaan potensi dan masalah di sektor kuliner, penginapan, masjid, sekolah, kampus, kantin kantor, hingga perumahan.

• Nanung Danar Dono, Ph.D. menyampaikan pentingnya MES DIY hadir secara aktif dalam pengawasan dan pengembangan acara halal, seperti Jogja Halal Fair (JHF) dan menyuarakan gagasan menjadikan Pasar Beringharjo sebagai Pasar Halal.

• Prof. Dr. Tulus Mustofa, Lc., M.A. mendukung agar SantriMart menjadi program unggulan MES DIY dalam membangun ekonomi berbasis pesantren.

Hasil rapat ini akan diformulasikan sebagai bahan strategis untuk rapat kerja MES DIY dan menjadi pijakan dalam desain program unggulan 2025–2027, antara lain:
• Program-program prioritas yang akan dikoordinasikan bersama tiap departemen MES DIY
• Penyusunan roadmap Komitmen Kawasan Halal berbasis komunitas
• Penguatan sinergi antara pemerintah, akademisi, pesantren, UMKM, dan ormas Islam
• Pengembangan masjid, pesantren, UMKM, dan desa wisata ramah muslim sebagai pusat gerakan ekonomi umat
• Pengawalan program pangan seperti MBG, agar produk yang beredar halal, sehat, dan higienis

Sebagai penutup, Prof. Edy Suandi Hamid kembali mengingatkan bahwa seluruh konsep, strategi, dan program tidak akan berarti tanpa gerakan literasi yang kuat dan berkelanjutan.

“Ekonomi syariah itu bukan sekadar sistem. Ia adalah gerakan. Maka, literasi dan praktiknya harus selalu bergerak, dari masjid ke pasar, dari desa ke dunia,” tegasnya.

Dewan Pakar MES DIY juga menegaskan komitmen untuk membangun ekosistem ekonomi umat yang inklusif, moderat, kolaboratif, dan bertumbuh secara berkelanjutan.

Komentar