Generasi Muda Terjebak “Job Hugging” di Tengah Tekanan Ekonomi

Pekanbaru (Riaunews.com) – Fenomena job hugging atau bertahan di pekerjaan yang tidak memuaskan semakin banyak dialami pekerja muda, terutama generasi milenial dan Gen Z. Mereka memilih bertahan bukan karena loyalitas, melainkan demi menjaga kestabilan ekonomi di tengah ketidakpastian pasar kerja.

Tomo, seorang pegawai swasta, mengaku tetap bertahan di kantornya karena status karyawan tetap. Ia khawatir kehilangan jaminan itu jika nekat pindah. “Kalau boleh jujur, karena kestabilan ekonomi. Kalau soal berkembang, enggak juga. Masih gini-gini saja,” katanya, Kamis (11/9/2025).

Kekhawatiran serupa juga dirasakan Andi. Ia mengaku pesimistis mencari peluang baru saat banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja. “Inginnya pindah, tapi dengan kondisi ekonomi sekarang rasanya berat. Belum lagi harus memikirkan biaya hidup,” ujarnya.

Bagi sebagian pekerja muda, cicilan rumah dan kewajiban finansial lain menjadi beban utama. Josua, pegawai swasta lainnya, mengaku memilih bertahan karena terikat dengan kredit pemilikan rumah. “Karena cicilan sih, seperti rumah dan lain-lain,” ucapnya.

Meski memberi rasa aman secara finansial, fenomena job hugging berpotensi menghambat pengembangan karier dalam jangka panjang. Generasi muda kini dihadapkan pada dilema besar: bertahan demi stabilitas atau berani mengambil risiko untuk mencari kepuasan profesional.

Pakar Sebut Job Hugging Bisa Hambat Inovasi dan Kesehatan Mental

Job Hugging bisa hambat perkembangan diri dan inovasi (Dok Qoo10)

Pakar ketenagakerjaan dari Universitas Indonesia, Ratri Handayani, menilai fenomena job hugging muncul karena kondisi ekonomi yang tidak stabil. Ia menyebut generasi muda lebih memilih keamanan jangka pendek dibanding mengambil risiko.

“Bertahan di pekerjaan yang tidak memuaskan bisa memberi rasa aman secara finansial, tetapi dalam jangka panjang justru menghambat pengembangan karier dan menekan kreativitas,” ujar Ratri.

Psikolog industri, Dimas Prakoso, menambahkan bahwa job hugging dapat berdampak pada kesehatan mental pekerja. Ketidakpuasan yang terus-menerus bisa memicu stres, rasa cemas, hingga burnout.

“Pekerja yang terjebak dalam kondisi ini sering merasa stagnan. Mereka ingin berkembang, tetapi takut kehilangan stabilitas ekonomi. Kondisi itu memicu konflik batin yang berbahaya bagi kesehatan mental,” jelas Dimas.

Para pakar menyarankan pekerja muda menyeimbangkan kebutuhan finansial dengan pengembangan diri. Salah satunya dengan mengambil peluang kursus, pelatihan, atau side job yang bisa membuka jalan baru tanpa harus langsung meninggalkan pekerjaan utama.

Komentar