Jakarta (Riaunews.com) – Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menegaskan kesiapan penuh menghadapi potensi eskalasi global dengan memastikan seluruh 32 negara anggotanya memenuhi target belanja pertahanan minimal 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025. Total anggaran pertahanan NATO tahun ini mencapai US$1,5 triliun atau sekitar Rp23.250 triliun.
Langkah ini dianggap sebagai bukti keseriusan NATO dalam memperkuat kesiapan menghadapi ancaman Rusia yang dinilai bisa memicu Perang Dunia III. Badan intelijen Barat memperingatkan Moskow berpotensi menyerang negara anggota NATO dalam tiga hingga lima tahun mendatang jika perang di Ukraina berakhir.
Dorongan untuk memperbesar anggaran datang langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang meminta sekutu meningkatkan belanja hingga 5% dari PDB. Dari jumlah itu, 3,5% dialokasikan untuk kekuatan militer inti, sementara 1,5% diarahkan ke sektor pendukung seperti infrastruktur dan keamanan siber.
Sejumlah negara yang sebelumnya tertinggal, seperti Spanyol, Belgia, dan Italia, mempercepat pengeluaran pertahanan untuk mengejar target menjelang KTT NATO di Den Haag pada Juni lalu. Negara yang berbatasan langsung dengan Rusia, seperti Polandia dan Baltik, bahkan diproyeksikan melampaui target hingga 5% dari PDB. Polandia sendiri diperkirakan mengalokasikan 4,48% dari PDB pada 2025, tertinggi di aliansi.
Sementara itu, Washington menegaskan ingin sekutu Eropa mengambil peran lebih besar dalam keamanan regional. Pentagon kini meninjau ulang penempatan pasukan globalnya dan membuka opsi mengurangi keterlibatan langsung di Eropa demi fokus menghadapi ancaman dari China.







Komentar