Oleh Bunda Umar, Aktivis dan Guru
Apa kabarnya program andalan penguasa. Sudahlah jatuh tertimpa tangga. Anak negeri yang barangkali berlatar belakang susah untuk makan. Kini harus menanggung derita. Keracunan massal di sekolah. Bukan kasus pertama tapi sudah berulang. Apakah tidak ada tindakan perombakan yang tegas atau penonaktifan program andalan ini? Padahal banyak anak sudah terdampak.Bagaikan punduk merindukan bulan. Generasi kita bermimpi mendapatkan pangan bergizi, namun realitanya janji manis pangan bergizi memulai penderitaan mereka.
Ketika kita telusuri, berdasarkan hasil Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) terdapat 43.838 warga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis. Publik berharap ada penegakan hukum tegas terhadap semua pihak yang terlibat dalam kasus ini.
Hasil dari penelusuran Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) bersumber dari laporan medis. Data korban keracunan diverifikasi langsung melalui catatan medis puskesmas, rumah sakit umum daerah, dan rilis resmi dinas kesehatan di setiap wilayah terdampak.
Jumlah korban keracunan sebanyak 43.838 tersebar di 36 provinsi. Mereka meliputi pelajar, guru, hingga ibu dan anak balita yang mengikuti program posyandu sebagai penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG). Bahkan ada di salah satu daerah di Sumatera ananda yang mengalami keracunan efek panjangnya mengalami kehilangan memori ingatanya sebesar 70%.
Penanganan pasca keracunan ala aturan kapitalis
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan penanganan pasca keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yaitu dengan cara menutup sementara SPPG di daerah yang terdampak, melakukan pembenahan uji higienis terhadap alat-alat makan MBG, mewajibkan SPPG memiliki Sertifikasi Laik Higienis Sanitasi (SLHS) dalam waktu satu bulan. Selain itu meminta puskesmas mendampingi pelaksanaan masak di SPPG. (Tempo.co, 30/09/2025)
Keyakinan kita bahwa program di atas adalah solusi dan dijalankan dengan sepenuh hati sepertinya agak berat. Seharusnya kasus keracunan tidak kembali berulang ketika hal tersebut benar-benar dijalankan untuk generasi.
Keuntungan yang besar sebenarnya yang menjadi incaran para elit. Memaksakan MBG terus berjalan meski kini banyak pelajar sekolah yang tumbang. Negeri ini dipimpin oleh sosok yang memfasilitasi dirinya antara investor dengan rakyat selalu konsumen. Pemimpin negeri ini rela mengorbankan ketidaksukaan rakyatnya dengan program unggulan mematikan ini.
Karena memang kita bisa telusuri pada jumlah anggaran menyedot keuangan yang tidak sedikit. Sekitar Rp 335 triliun dalam sebulannya. Dampak terhebatnya menyedot anggaran lain dari APBN seperti pendidikan, keamanan dll. Meski tersebar opini bahwa kaan ada penghematan anggaran menjadi Rp 200 triliun, akan tetapi tentunya akan mengorbankan anggaran budget bahan pangan yang akan diberikan kepada generasi. Dan bisa saja semakin berdampak pada kinerja para pegawai SPPG. Maka semakin wajar tingkat keracunan bagi rakyat. Sementara suntikan dana untuk elit pejabat tetap pada anggaran yang lebih besar.
Tata kelola pangan untuk generasi terbaik
Mari mengingat Hadis dari Ma’qil Bin Yasâr ra. ia berkata bahwasanya ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin bawahannya yang pada hari kematiannya ia masih berbuat curang atau menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga atasnya.” (Bukhari No. 7150 dan Muslim No. 142).
Petunjuk ilahi tersebut sebaiknya menampar para elit pemerintah untuk sadar diri mereka sama seperti rakyat. Mereka hanya diberi kemampuan lebih memimpin banyak orang agar bisa memperlancar mereka dalam pemenuhan kebutuhannya. Tidak menipu dan berbuat curang atas harta yang menjadi hak rakyat.
Perbaikan gizi generasi adalah tanggung jawab orangtua utamanya. Namun kelayakan gizi tersebut mutlak menjadi tambahan tugas negara agar seimbang antara generasi satu dengan generasi lain. Keseimbangan tersebut berdampak bagi masa depan negera tersebut.
Pengelolaan pangan bergizi penting sekali disandarkan pada dalil ” Pentingnya memberikan anak makanan yang halal dan baik”. Halal artinya uang pembeli makanan tersebut didapat dengan cara halal tidak dari hasil mencuri, ataupun korupsi.
Saat akan memberikan pangan ke anak dipilah makanan yang diberikan. Tidak semua bisa diberikan. Tidak berupa makanan praktis berpengawet, banyak mengandung perasa kimia, diolah setengah matang. Seharusnya memanfaatkan hasil alam terutama buah-buahan.
Penyajian makanan tersebut teknisnya bisa dalam bentuk makanan jadi atau peluang dengan pemberian insentif uang bagi keluarganya. Agar bisa memenuhi kebutuhan sang anak. Negara jangan memaksakan program makanan bergizi jika tidak tepat dalam pengemasan hingga dikonsumsi anak. Barangkali dapat membawa bahaya bagi generasi.
Pemerintah harusnya berkaca jika ada mudharat atau bahaya satu kali saja keracunan menjadi alarm keras untuk evaluasi ketat dan berganti program. Karena ini juga terkait nyawa manusia.
Karena sekali lagi tugas utama negara menjaga dan melayani rakyat. Bukan memfasilitasi investor elit untuk dapat suntikan dana hingga menumbalkan keselamatan rakyat. Satu pemuda terbaik dapat menghasilkan beribu generasi baik. Jika kualitas yang pertama tadi memang betul-betul diperhatikan dan dijaga.







Komentar