Jakarta (Riaunews.com) – Muhammadiyah resmi menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idul Fitri 2026 jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan tersebut diumumkan melalui Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah berdasarkan metode hisab yang selama ini menjadi pedoman dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Tahun ini, Muhammadiyah mulai menerapkan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menggantikan metode hisab hakiki wujudul hilal. KHGT sendiri telah resmi diluncurkan pada 25 Juni 2025 dan menjadi acuan dalam penetapan awal Ramadan, Syawal, serta bulan-bulan Hijriah lainnya.
Sementara itu, Nahdlatul Ulama hingga kini belum mengumumkan penetapan 1 Syawal 1447 H. NU menggunakan metode rukyatul hilal atau pemantauan hilal secara langsung yang merujuk pada keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Muktamar NU sejak 1954.
Pemerintah sendiri menetapkan awal Ramadan dan Idul Fitri melalui sidang isbat yang biasanya digelar menjelang akhir bulan Syaban dan Ramadan. Hasil sidang mempertimbangkan metode rukyat dan hisab. Dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026, Idul Fitri diperkirakan jatuh pada 21–22 Maret 2026, namun tanggal tersebut masih menunggu hasil sidang isbat resmi.
Adapun jadwal libur dan cuti bersama Lebaran 2026 berdasarkan SKB Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri PANRB adalah sebagai berikut:
Jumat, 20 Maret 2026 (cuti bersama)
Sabtu, 21 Maret 2026 (libur nasional)
Minggu, 22 Maret 2026 (libur nasional)
Senin, 23 Maret 2026 (cuti bersama)
dan Selasa, 24 Maret 2026 (cuti bersama).
Meski terdapat potensi perbedaan penetapan, umat Islam diimbau tetap menjaga persatuan dan saling menghormati dalam menyikapi perbedaan metode penentuan hari raya.







Komentar