Mercedes Akui Perlu Waktu Beradaptasi Usai FIA Batasi Sayap Fleksibel

Motorsport268 Dilihat

Pekanbaru (Riaunews.com) – Mercedes mengakui menghadapi tantangan besar dalam pengembangan mobil selama era ground-effect Formula 1, terutama setelah FIA memperketat aturan terkait penggunaan sayap fleksibel pada musim 2025. Tim asal Jerman itu menyebut membutuhkan waktu untuk beradaptasi setelah regulasi baru diberlakukan.

Setelah mendominasi Formula 1 dengan delapan gelar juara konstruktor beruntun, Mercedes justru kesulitan sejak era ground-effect dimulai pada 2022. Konsep zero-pod yang mereka usung terbukti rentan terhadap porpoising dan membuat performa tim tertinggal dari para rivalnya dalam beberapa musim terakhir.

Direktur Teknik di sisi lintasan Mercedes, Andrew Shovlin, menjelaskan bahwa salah satu solusi yang sempat membantu performa tim adalah penggunaan sayap fleksibel. Menurutnya, pendekatan tersebut mampu meningkatkan kemampuan mobil di tikungan lambat sekaligus menjaga stabilitas di kecepatan tinggi.

Namun, FIA memperkenalkan regulasi baru pada 2025 yang secara signifikan membatasi fleksibilitas sayap depan dan belakang. Pengujian ketat mulai diterapkan pada Grand Prix Spanyol, yang berdampak berbeda pada setiap tim. Meski tidak menghambat dominasi McLaren, aturan tersebut diakui cukup memengaruhi performa Mercedes.

“Kami membutuhkan sedikit waktu untuk beradaptasi setelah peraturan itu diterapkan di Barcelona,” ujar Shovlin. Ia menambahkan bahwa Mercedes juga mempelajari pendekatan teknis tim lain, termasuk konsep suspensi belakang McLaren, untuk memahami cara memaksimalkan keseimbangan mobil.

Shovlin mengakui bahwa Mercedes tidak sepenuhnya siap menghadapi perubahan regulasi besar pada 2022. Meski tidak menyebut timnya meremehkan tantangan, ia menilai ada beberapa aspek pengembangan yang tidak digarap maksimal. Kini, Mercedes mulai fokus mempersiapkan diri menghadapi perubahan regulasi besar berikutnya pada 2026, yang dinilai tidak lagi semenakutkan dibandingkan sebelumnya.

Komentar