Jakarta (Riaunews.com) – Libur akhir tahun 2025 menghadirkan kontras di sektor pariwisata nasional. Bali yang selama ini menjadi destinasi utama justru mengalami penurunan kunjungan wisatawan, sementara Yogyakarta mencatat peningkatan arus pelancong selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, pihaknya menerima laporan penurunan jumlah wisatawan di Bali. Di sisi lain, Yogyakarta justru menunjukkan geliat pariwisata yang cukup signifikan selama periode libur akhir tahun.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat penjualan 2,28 juta tiket kereta api jarak jauh untuk periode 19 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Dari jumlah tersebut, 238.149 penumpang atau sekitar 10,42 persen tercatat menuju Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan sepertiganya berasal dari DKI Jakarta. Sementara itu, Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta memprediksi sekitar 7 juta wisatawan akan memasuki kota tersebut selama periode Nataru.
Maulana menjelaskan, penurunan kunjungan wisatawan ke Bali dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari cuaca ekstrem, sentimen bencana banjir, hingga mahalnya harga tiket pesawat. Selain itu, karakter wisatawan Bali dan Yogyakarta juga berbeda. Bali lebih banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, sementara Yogyakarta didominasi wisatawan nusantara.
Menurutnya, tren kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada Desember memang cenderung lebih rendah dibandingkan musim panas Juli–Agustus. Sementara wisatawan domestik ke Bali juga berkurang akibat harga tiket pesawat yang tinggi dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
“Harga tiket pesawat pulang-pergi Jakarta–Bali saat ini bisa mencapai Rp3,5 juta. Namun faktor utama penurunan wisatawan Bali tetap rendahnya kunjungan wisman,” ujar Maulana, Selasa (24/12). Ia menambahkan, ramainya Yogyakarta lebih dipicu oleh wisatawan nusantara, meski belum tentu wisatawan yang batal ke Bali kemudian mengalihkan tujuan liburannya ke Yogyakarta.







Komentar