Baca di Layar atau Beli Buku? Wajah Baru Kebiasaan Membaca di Era Digital

Lifestyle, Opini14 Dilihat

Oleh Tengku Nindy Ananda Putri

Dulu, membaca identik dengan membuka lembaran koran atau menamatkan sebuah buku. Kini, cukup dengan menggeser layar telepon pintar, seseorang dapat menemukan berita, cerita fiksi, hingga berbagai informasi dalam hitungan detik. Perubahan teknologi secara perlahan turut mengubah cara masyarakat, terutama generasi muda, menikmati bacaan.

Bagi mereka yang menyukai cerita fiksi, perubahan tersebut semakin terasa. Jika dahulu seseorang perlu membeli novel di toko buku atau mencari buku bekas di pasar, kini cerita dapat ditemukan melalui berbagai platform digital seperti Wattpad, X, hingga Instagram. Banyak penulis juga memilih membagikan karyanya melalui media sosial sehingga pembaca dapat menikmati cerita tanpa harus memiliki buku dalam bentuk fisik.

Kemudahan tersebut tentu menjadi salah satu keuntungan dari perkembangan teknologi. Berbagai bacaan dapat diakses kapan saja dan di mana saja hanya melalui telepon pintar. Namun, di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan lain apakah perkembangan teknologi benar-benar membuat masyarakat semakin gemar membaca atau justru mengubah kebiasaan membaca menjadi lebih cepat dan singkat?

Perkembangan teknologi turut mengubah cara generasi muda mengakses bacaan. Dalam artikel “Minat Baca Generasi Z: Antara Buku Fisik dan Layar Digital” yang diterbitkan Biro Perencanaan Mutu Pendidikan dan Pembelajaran Universitas Medan Area pada 1 September 2025, disebutkan bahwa Generasi Z semakin akrab dengan bacaan digital seperti buku elektronik, artikel daring, serta platform cerita. Kemudahan akses menjadi salah satu alasannya karena berbagai bacaan dapat dibaca melalui telepon pintar kapan saja dan di mana saja.

Namun, artikel tersebut juga menunjukkan bahwa buku fisik masih memiliki tempat di kalangan generasi muda karena dianggap memberikan pengalaman membaca yang lebih fokus dan tidak terganggu oleh notifikasi gawai. Artinya, kehadiran teknologi tidak serta-merta membuat buku fisik kehilangan peminat.

Perubahan cara membaca di era digital juga belum sepenuhnya diikuti dengan kebiasaan membaca yang konsisten. Survei GoodStats yang dilakukan pada 20 Januari hingga 10 Februari 2025 terhadap 1.000 responden di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan bahwa 20,7 persen responden membaca buku setiap hari. Sementara itu, 22,3 persen membaca setidaknya seminggu sekali dan 24,6 persen membaca sebulan sekali. Sebanyak 17 persen responden mengaku hanya membaca buku sesekali, sedangkan 15,4 persen lainnya jarang membaca buku.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan membaca tidak hanya berkaitan dengan tersedianya bahan bacaan. Di tengah banyaknya pilihan yang tersedia, tantangan lainnya adalah bagaimana menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.

Layar yang Mendekatkan Bacaan, tetapi Menjauhkan Kebiasaan Membaca

Salah satu perubahan yang terlihat saat ini adalah semakin mudahnya masyarakat menemukan cerita maupun berita melalui media sosial. Dengan membuka telepon pintar, pembaca dapat menemukan berbagai jenis bacaan tanpa perlu pergi ke toko buku atau membawa buku fisik.

Perubahan tersebut juga terlihat dalam kebiasaan membaca cerita fiksi. Salah satu contohnya adalah Alternative Universe (AU) yang banyak ditemukan di media sosial. Cerita seperti ini tidak hanya menyajikan tulisan, tetapi juga kerap menggunakan format percakapan, ilustrasi, dan berbagai elemen visual lainnya. Bagi sebagian pembaca, bentuk penyajian  seperti ini terasa lebih menarik dibandingkan buku fiksi yang sebagian besar berisi narasi.

Dari pandangan penulis fenomena tersebut, persoalan yang menarik sebenarnya bukan lagi sekadar memilih antara buku fisik atau bacaan digital. Keduanya sama-sama memiliki kelebihan dan dapat menjadi sarana untuk mendapatkan informasi maupun hiburan. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah kemudahan akses tersebut benar-benar membuat kita semakin gemar membaca atau justru membuat kita terbiasa membaca sesuatu secara cepat.

Saat ini, informasi begitu mudah ditemukan. Hanya dengan membuka media sosial, kita bisa menemukan berita, cerita, opini, hingga berbagai pengetahuan dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut juga membuat perhatian mudah berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya. Baru membaca beberapa paragraf, perhatian dapat teralihkan oleh notifikasi, video pendek, atau unggahan lain yang dianggap lebih menarik.

Dalam kondisi tertentu, membaca akhirnya dapat berubah menjadi kegiatan sekadar melihat dan melewati informasi, bukan lagi membaca secara mendalam untuk memahami dan memikirkannya. Kita seolah-olah berada di tengah lautan informasi, tetapi belum tentu benar-benar memahami apa yang sudah dibaca.

Harga Buku Fisik Tak Lagi Masuk Akal

Persoalan lainnya adalah harga buku fisik yang terkadang cukup mahal. Bagi sebagian pembaca, membeli buku secara rutin tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kehadiran buku elektronik atau e-book kemudian menjadi alternatif yang lebih mudah dan terjangkau. Dengan harga yang relatif lebih rendah dan dapat dibaca melalui telepon pintar, e-book menjadi pilihan bagi pembaca yang ingin tetap menikmati buku tanpa harus membeli versi fisiknya.

Namun, bagi pembaca yang memang menyukai buku dan senang mengoleksinya, buku fisik tetap memiliki daya tarik tersendiri. Membeli buku tidak selalu hanya tentang membaca cerita. Ketika melakukan pre-order, misalnya, pembaca terkadang mendapatkan merchandise atau barang tambahan yang membuat pengalaman membeli buku menjadi lebih menarik.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pilihan antara buku fisik dan digital tidak selalu sesederhana menentukan mana yang lebih baik. Ada pembaca yang lebih mengutamakan kemudahan dan harga, sementara ada pula yang menikmati pengalaman memiliki serta membaca buku secara langsung.

Karena itu, yang perlu dipertahankan dari kebiasaan membaca bukan semata-mata bentuk medianya, melainkan prosesnya. Membaca seharusnya tidak hanya tentang seberapa banyak halaman yang berhasil diselesaikan, tetapi juga tentang seberapa banyak pemahaman dan pemikiran yang diperoleh setelah membaca.

Buku fisik memang tidak selalu menjadi jawaban. Begitu pula bacaan digital tidak dapat serta-merta dianggap sebagai penyebab berkurangnya kebiasaan membaca. Keduanya hanyalah media. Yang lebih penting adalah bagaimana media tersebut digunakan untuk benar-benar membaca, memahami, dan menikmati sebuah bacaan.

Untuk menghadapi persoalan tersebut, membangun kebiasaan membaca tidak harus dimulai dengan target yang besar. Membaca dapat dimulai dari hal sederhana, seperti menyediakan waktu 15–30 menit setiap hari untuk membaca tanpa gangguan notifikasi. Bacaan yang dipilih pun tidak harus selalu buku yang tebal. Artikel, cerpen, novel, maupun buku elektronik dapat menjadi pilihan selama pembaca benar-benar meluangkan waktu untuk memahami isinya.

Sekolah dan lingkungan keluarga juga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan tersebut. Kegiatan membaca sebaiknya tidak hanya diarahkan pada kewajiban menyelesaikan buku atau tugas, tetapi juga memberikan ruang bagi anak muda untuk memilih bacaan sesuai dengan minat mereka. Dengan begitu, membaca tidak terasa sebagai sebuah kewajiban, tetapi dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Di sisi lain, perkembangan teknologi seharusnya tidak selalu dianggap sebagai penyebab menurunnya minat baca. Teknologi justru dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendekatkan generasi muda dengan bacaan. Perpustakaan digital, buku elektronik, platform cerita, dan berbagai media edukasi dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kembali kebiasaan membaca.

Pada akhirnya, pertanyaan “baca di layar atau beli buku?” mungkin bukan lagi pertanyaan yang paling penting. Yang lebih penting adalah apakah kita masih memberikan waktu untuk membaca di tengah derasnya arus informasi digital.

Sebab, sebanyak apa pun bacaan yang tersedia di depan mata, semuanya tidak akan berarti jika kita tidak benar-benar meluangkan waktu untuk membacanya. Buku fisik maupun layar digital pada akhirnya hanyalah sarana. Kebiasaan membaca tetap bergantung pada kemauan kita untuk berhenti sejenak dari derasnya informasi, membuka sebuah bacaan, dan benar-benar memahami apa yang sedang kita baca.

Komentar