Kecanggihan AI, Antara Harapan dan Kekhawatiran

Opini, Tekno39 Dilihat

Oleh Reni Susanti, S.A.P,Muslimah Riau

Siapa yang tidak mengenal AI? Kini masyarakat seluruh dunia disemua kalangan kerap memanfaatkan kecerdasan AI dalam menyelesaikan sebagian pekerjaan mereka. Namun, jika di ulik lebih dalam ternyata AI bisa memberikan dampak yang mengerikan kedepannya. Bagaimana kita menyikapinya?

Para peneliti kecerdasan buatan (AI), termasuk “Bapak AI” dunia, menerbitkan riset yang mewanti-wanti pemerintah untuk bersiap menghadapi ledakan kecerdasan AI. Sebuah riset berjudul “Bagaimana jika otomatisasi R&D AI memicu ledakan kecerdasan AI?” Melibatkan salah satu pendiri Anthropic Jack Clark dan kepala ilmuwan Open AI Jakup Pachocki dan melibatkan 22 peneliti termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang dianggap sebagai bapak AI modern.

Menurut riset tersebut, seorang pengembang AI dapat menjalankan tenaga kerja yang setara dengan jutaan peneliti manusia terbaik karena otomatisasi penelitian dan pengembangan oleh AI itu sendiri. (CNN Indonesia, 30/09/2026)

Di lansir oleh Kompas.id, perkembangan AI kini semakin jau memasuki berbagai bidang, tidak hanya digunakan untuk mengotomatisasi pekerjaan, namun sudah masuk sektor kesehatan dan keuangan. Kini sudah mendukung penemuan obat, menganalisis risiko keuangan, hingga membantu dalam pengambilan keputusan.

Bahkan Singapura berencana menggunakan robot humanoid berbasis buatan atau AI untuk bekerja bersama petugas keamanan publik pada 2028 mendatang. Robot tersebut dirancang untuk menangani tigas berisiko seperti merespons bahan berbahaya, menyelidiki lokasi ledakan, hingga menggeledah sel tahanan. (CNN Indonesia, 05/10/2026)

Namun dibalik banyaknya manfaat AI dalam berbagai aspek kehidupan, teknologi ini juga menimbulkan sisi gelap yang berpotensi memberikan dampak serius terutama dalam penyebaran informasi, pelanggaran privasi, dan manipulasi sosial.

AI mempunyai kemampuan menghasilkan konten palsu yang sangat realistis seperti gambar, video, dan teks,yang memungkinkan seseorang ditampilkan dalam situasi yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Hal ini bisa merusak reputasi individu, memicu konflik sosial, hingga memanipulasi opini publik.

Para ahli menegaskan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti pengambilan keputusan manusia. Karena bisa saja menghasilkan keputusan tidak adil atau diskriminatif.

Perkembangan AI juga memicu dampak sosial seperti berkurangnya lapangan kerja akibat otomatisasi, serta meningkatnya ketergantungan manusia terhadap teknologi yang berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis.
Di era digital, masyarakat dituntut untuk lebih kritis dalam menyaring informasi, dan pengawasan yang tepat. Terutama bagi orang tua sangat penting berperan dalam memberikan literasi digital bagi anak-anak dan remaja. (Metrotvnews.com, 21/04/2026)

AI Memudahkan dan Mengkhawatirkan

Perkembangan teknologi AI ibarat dua mata pisau. Memberikan kemudahan sekaligus menimbulkan bahaya bagi manusia. Dengan kecanggihan teknologi AI saat ini apa saja bisa dilakukan. Penggunaan AI bisa untuk kebaikan tapi juga sangat mungkin untuk melakukan kejahatan.

Perkembangan kecanggihan teknologi AI bukanlah suatu kesalahan. Ia akan kembali kepada manusia yang memanfaatkannya, apakah untuk kebaikan atau kejahatan. Namun ledakan kecerdasan buatan (AI) saat ini jika tanpa kendali akidah dan syariat Islam bisa beresiko pada kehancuran kehidupan manusia.

Bagaimana Pandangan Islam?

Allah telah memberikan kepada manusia kemuliaan akal untuk berpikir memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan menjadi khalifah fiil ardhi (QS.Al-Baqarah:30). Ini artinya manusialah yang akan memimpin bumi Allah, bukan teknologi. Manusia dengan akalnya yang sempurna jika digunakan dengan benar yang bersandar pada wahyu Allah pasti mampu mengendalikan dampak buruk teknologi AI.

Islam menetapkan hukum yang tegas segala bentuk hasil pemikiran manusia menjadi hadarah (dipengaruhi ideologi) dan madaniah (netral). Dalam ideologi kapitalisme sekulerisme memberikan pandangan bahwa hidup hanya mencari keuntungan materi tanpa peduli halal haram, sedangakan ideologi Islam memberikan pandangan bahwa hidup hanya untuk beribadah kepada Allah (QS.Adz-Dzariyat:56). Maka wajib bagi seorang muslim meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya yang menjadi tolak ukur perbuatan, bukan mencari keuntungan semata. Sehingga kecanggihan AI bisa dikontrol dengan benar.
AI ditangan manusia yang memiliki akidah yang kokoh dan ketundukan pada syariat akan memberikan kemaslahatan bagi manusia. Sebaliknya, AI ditangan kafir akan mendatangkan bahaya dan kerusakan.

Oleh karena itu, sistem kehidupan manusia harus diatur oleh syariat Islam agar selamat.

Allahu a’lam.

Komentar