Pekanbaru (Riaunews.com) – Dari 12 kabupaten dan kota di Provinsi Riau, hanya Kabupaten Kuantan Singingi yang hingga kini belum menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sementara Pemerintah Provinsi Riau dan 11 daerah lainnya telah lebih dahulu menetapkan status tersebut sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD dan Damkar) Provinsi Riau, M Edy Afrizal, melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Jim Gafur, mengatakan penetapan status siaga darurat penting untuk mempercepat koordinasi penanganan karhutla.
“Saat ini pemerintah provinsi dan 11 pemerintah kabupaten/kota di Riau sudah menetapkan status siaga darurat karhutla. Hanya tinggal satu daerah saja yang belum menetapkan yakni Kuansing,” kata Jim Gafur, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, penetapan status siaga darurat merupakan bentuk kewaspadaan terhadap potensi karhutla yang meningkat seiring masuknya Riau ke musim kemarau.
Status Siaga Permudah Penanganan
Jim menjelaskan, status siaga darurat akan mempermudah koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah dalam upaya penanggulangan karhutla.
Selain itu, proses pengiriman bantuan personel, peralatan, maupun dukungan lainnya dapat dilakukan lebih cepat apabila suatu daerah telah menetapkan status siaga darurat.
“Jika sudah menetapkan status, koordinasi dan pengiriman bantuan akan lebih mudah. Sehingga penanganan karhutla juga akan lebih cepat. Kami harapkan Kuansing juga segera menetapkan status,” ujarnya.
Pemadaman Karhutla Masih Berlangsung di Tiga Daerah
Sementara itu, tim Manggala Agni dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera masih melakukan operasi pemadaman di sejumlah titik kebakaran di Riau.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan pemadaman saat ini difokuskan di Rantau Bais, Kabupaten Rokan Hilir, Sokoi, Kabupaten Pelalawan, dan Kandis, Kabupaten Siak.
Sementara itu, kebakaran di Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir, telah berhasil dipadamkan setelah lima hari penanganan intensif.
“Tim Manggala Agni terus bekerja maksimal di seluruh lokasi kebakaran. Meskipun menghadapi kondisi cuaca yang cukup menantang dan medan yang tidak mudah, personel tetap fokus melakukan pemadaman dan pendinginan untuk memastikan api benar-benar dapat dikendalikan,” kata Ferdian.
Di Rantau Bais, petugas menghadapi kendala berupa angin kencang yang mempercepat pergerakan api dan menimbulkan asap pekat di lokasi kebakaran. Berdasarkan pemantauan sementara, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 44 hektare.
Untuk mempercepat penanganan, jumlah personel pemadam di lokasi tersebut akan ditambah mengingat luas area yang terbakar serta masih tersedianya sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasi pemadaman.
