Hotspot di Riau Bertambah Jadi 22 Titik, Satu Titik Dipastikan Karhutla

Pekanbaru (Riaunews.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 22 titik panas (hotspot) di Provinsi Riau pada Jumat (10/7/2026). Dari jumlah tersebut, satu titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi dan dipastikan sebagai titik api atau kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Anggun R, mengatakan secara keseluruhan terdapat 297 titik panas yang terpantau di Pulau Sumatera.

“Total hotspot di wilayah Sumatera sebanyak 297 titik, sedangkan di Provinsi Riau terdeteksi sebanyak 22 titik panas,” kata Anggun.

Kabupaten Rokan Hilir menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni sembilan titik. Selanjutnya Kota Dumai tujuh titik, Kabupaten Siak tiga titik, Kabupaten Kuantan Singingi dua titik, dan Kabupaten Pelalawan satu titik.

Dari total 22 titik panas di Riau, satu titik di Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, terdeteksi dengan tingkat kepercayaan tinggi sehingga dipastikan sebagai titik api atau karhutla.

“Sedangkan 20 titik lainnya berada pada tingkat kepercayaan sedang dan satu titik di level rendah,” ujarnya.

BMKG Imbau Masyarakat Tidak Membakar Lahan

Secara regional, Provinsi Aceh mencatat jumlah hotspot terbanyak di Sumatera dengan 76 titik, disusul Sumatera Utara 60 titik, Sumatera Selatan 52 titik, Kepulauan Bangka Belitung 42 titik, Lampung 34 titik, dan Riau 22 titik.

BMKG juga mengingatkan bahwa sejumlah wilayah di Riau masih berpotensi diguyur hujan pada Jumat ini. Di beberapa daerah, hujan diprakirakan berintensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.

Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu menekan potensi bertambahnya titik panas. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar karena masih berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah dengan kondisi vegetasi yang mulai mengering.

BMKG menyatakan akan terus memantau perkembangan hotspot dan kondisi cuaca di Riau serta mengimbau masyarakat mengikuti informasi resmi sebagai langkah antisipasi terhadap potensi karhutla maupun bencana hidrometeorologi.