Festival Telaga Air Merah Berkembang Jadi Wisata Budaya, Dorong Ekonomi Desa di Meranti

Meranti, Pariwisata28 Dilihat

Festival Telaga Air Merah dan Kemah Budaya 2026 di Desa Tanjung, Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, berkembang menjadi ajang wisata budaya yang mulai menarik perhatian penggiat ekowisata dari berbagai daerah di Riau.

Kegiatan yang berlangsung pada 16–17 Mei 2026 itu memasuki tahun keenam penyelenggaraan sejak pertama kali digelar pasca-pandemi Covid-19. Festival diisi berbagai kegiatan budaya masyarakat seperti pacu sampan tradisional, lomba mencucuk atap daun rumbia, lomba edukasi anak-anak, malam apresiasi seni budaya, pertunjukan musik Melayu, api unggun, hingga kemah budaya di kawasan Telaga Air Merah.

Tahun ini, festival juga dirangkai dengan diskusi pengembangan desa wisata berbasis digital yang diikuti penggiat wisata dari Pekanbaru, Kampar, Pelalawan, Dumai, Siak, Rokan Hilir, dan Kepulauan Meranti.

Ketua BUMDes Desa Tanjung sekaligus Ketua Panitia Festival Telaga Air Merah 2026, Selamet Riyadi, mengatakan kegiatan tersebut awalnya hanya berupa lomba pacu sampan tradisional untuk menghidupkan kembali kawasan wisata desa yang sempat sepi pengunjung saat pandemi.

“Awalnya kegiatan ini hanya pacu sampan tradisional untuk menarik kembali pengunjung setelah pandemi. Namun seiring waktu antusiasme masyarakat semakin besar sehingga tahun ini kami mengembangkan konsepnya menjadi Festival Telaga Air Merah,” ujar Selamet.

Menurutnya, festival tersebut kini tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan budaya dan tradisi masyarakat pesisir kepada pengunjung dari luar daerah.

Wisata Desa Dorong UMKM dan Promosi Digital

Selamet menyebut peningkatan kunjungan wisata selama festival mulai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat desa, terutama pelaku usaha kecil dan UMKM di sekitar kawasan wisata.

“Kami berharap festival ini ke depan bisa berkembang lebih besar dan mendapat dukungan pemerintah sehingga dapat menjadi bagian dari agenda festival nasional,” katanya.

Dalam diskusi pengembangan desa wisata, pemateri dari Yayasan Umar Kayam Yogyakarta, Saiful Bakhtiar, menilai promosi digital menjadi faktor penting dalam pengembangan wisata desa.

“Jika desa tidak hadir di media sosial, maka desa tersebut akan sulit masuk dalam pilihan destinasi wisata masyarakat,” ujar Saiful.

Ia mengatakan pengembangan wisata desa tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga harus didukung kesiapan layanan, promosi digital, hingga sistem pembayaran non-tunai untuk mendukung transaksi UMKM.

Saiful juga mendorong keterlibatan aparat kepolisian dan Badan Narkotika Nasional Kabupaten Kepulauan Meranti dalam memberikan edukasi terkait bahaya penyalahgunaan narkotika di tengah meningkatnya aktivitas wisata.

Sementara itu, Owner Subayang Festival, Dodi Rasyid Amin, menilai festival berbasis budaya dan alam dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat jika memiliki identitas kuat dan dikelola secara konsisten.

“Festival bukan hanya soal keramaian acara, tetapi bagaimana masyarakat ikut merasakan dampak ekonomi dan memiliki rasa memiliki terhadap kawasan wisata tersebut,” ujarnya.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tanjung Belit, Dedi Irawan, juga menyebut pengelolaan wisata berbasis masyarakat mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi desa.

“Dari penjualan tiket saja, kami bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp40 juta hingga Rp60 juta per bulan tergantung jumlah pengunjung,” kata Dedi.

CSR Coordinator PT Imbang Tata Alam (ITA), Arip Hidayatulloh, mengatakan pengembangan wisata berbasis partisipasi masyarakat memiliki peluang keberlanjutan yang lebih kuat karena tumbuh dari keterlibatan langsung warga desa.

Sementara CSR & Communication Division Manager EMP, Iman Soerjasantosa, menilai penguatan identitas kawasan wisata dan promosi digital dapat membuka peluang ekonomi lebih luas bagi masyarakat desa di sektor UMKM dan ekonomi kreatif.

Komentar