Dosen UWM: Sapaan Sehari-hari Cerminkan Relasi Kuasa Sosial

Budaya, Sosial24 Dilihat

Yogyakarta (Riaunews.com) – Penggunaan bahasa sapaan seperti “ketua”, “kakanda”, hingga “abangda” dalam interaksi sehari-hari dinilai tidak sekadar bentuk komunikasi, tetapi juga mencerminkan relasi kuasa dalam struktur sosial. Hal tersebut disampaikan dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mataram, Shulbi Muthi Sabila Salayan Putri S.I.Kom., M.I.Kom..

Menurutnya, bahasa dalam praktik sosial tidak pernah bebas nilai karena memuat makna, kepentingan, serta relasi kuasa yang sering kali tidak disadari oleh penggunanya. Sapaan, kata dia, merupakan praktik simbolik yang dapat menunjukkan posisi sosial seseorang.

“Penggunaan sapaan bisa menjadi cara untuk menegaskan siapa yang memiliki otoritas dan siapa yang berada dalam posisi menyesuaikan diri,” ujarnya saat ditemui di kampus UWM, Banyuraden, Gamping, Sleman, Kamis (23/4/2026).

Bisa Bergeser Jadi Alat Kekuasaan

Shulbi menjelaskan, penggunaan sapaan yang berulang dan tidak kontekstual berpotensi bergeser dari bentuk penghormatan menjadi alat untuk membangun atau mempertahankan relasi kuasa. Meski begitu, ia menegaskan tidak semua sapaan bermakna negatif.

Dalam budaya Indonesia, sapaan tetap menjadi bagian penting dari etika komunikasi dan kesantunan sosial. Banyak orang menggunakan sapaan secara tulus sebagai bentuk penghormatan. Namun, persoalan muncul ketika sapaan digunakan berlebihan sebagai strategi memperoleh pengakuan atau posisi tertentu.

Ia juga menyoroti bahwa individu kerap menyesuaikan bahasa dengan norma sosial yang berlaku. Dalam situasi tertentu, seseorang tidak sepenuhnya bebas memilih cara berbicara karena adanya tekanan sosial.

Bahasa Jadi Alat Kontrol Sosial

Menurutnya, ketika sapaan tertentu menjadi kebiasaan bersama, tidak menggunakannya justru bisa dianggap menyimpang. Fenomena ini menunjukkan bahasa dapat berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang halus.

Praktik tersebut bahkan meluas ke ruang digital, termasuk media sosial, di mana sapaan digunakan dalam komunikasi publik hingga menjadi bagian dari pencitraan diri untuk menunjukkan kedekatan dengan figur tertentu.

Meski demikian, ia menekankan bahasa bersifat fleksibel dan dapat digunakan untuk membangun komunikasi yang lebih setara jika digunakan secara sadar.

“Jika digunakan tanpa kesadaran, bahasa bisa memperkuat hierarki. Namun jika digunakan secara reflektif, bahasa justru dapat menjadi alat untuk menciptakan komunikasi yang lebih setara,” pungkasnya.

Komentar