Yogyakarta (Riaunews.com) – Momen berbuka puasa selama Ramadan tidak hanya menjadi ajang kebersamaan dan ungkapan syukur, tetapi juga berpotensi memicu perilaku emotional consuming yang berdampak pada kesehatan serta keuangan rumah tangga. Hal ini disampaikan Dosen Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Dr. Bhenu Artha, S.E., M.M.
Bhenu menjelaskan, buka puasa kerap menjadi momen emosional yang mendorong konsumsi berlebihan, baik dalam bentuk makanan maupun pembelian produk tertentu. Menurutnya, ada dimensi psikologis yang kuat saat berbuka, mulai dari rasa lega, syukur, hingga dorongan merayakan bersama keluarga yang kemudian memicu perilaku konsumsi emosional.
Ia menyebut emotional consuming sebagai respons psikologis yang dipengaruhi perubahan rutinitas selama Ramadan, tekanan sosial, serta ekspektasi budaya terhadap hidangan istimewa saat berbuka. Dalam jangka pendek, perilaku ini memberi kepuasan emosional, namun dalam jangka menengah dan panjang dapat memicu peningkatan berat badan, gangguan pencernaan, serta tekanan finansial akibat pengeluaran yang tidak terkontrol.
Mengacu pada kajian Nabilah dan Natanael (2025), fenomena ini juga dapat dilihat dari sisi ekonomi, terutama terkait lonjakan permintaan musiman dan pengeluaran impulsif selama Ramadan. Permintaan terhadap makanan siap saji, takjil, dan bahan pangan meningkat signifikan sehingga mendorong pengeluaran tambahan rumah tangga.
Bhenu menegaskan, tanpa perencanaan matang, pengeluaran saat Ramadan dapat menggerus anggaran keluarga dan menimbulkan pemborosan akibat sisa makanan yang terbuang. Kondisi ini tidak hanya menambah biaya riil rumah tangga, tetapi juga mengurangi efisiensi distribusi pangan.
Meski demikian, ia menilai pola konsumsi selama Ramadan tetap bisa memberi dampak ekonomi positif jika dikelola secara bijak. Salah satunya dengan mengarahkan belanja berbuka kepada pelaku UMKM lokal secara terukur, menyusun menu sederhana dan seimbang, serta menetapkan porsi bagi setiap anggota keluarga agar konsumsi tetap sehat dan rasional.







Komentar