Honda Hentikan Pengembangan EV, Dinilai Kian Tertinggal di Industri Otomotif Global

Otomatif177 Dilihat

Tokyo (Riaunews.com) – Produsen otomotif asal Jepang, Honda, menghentikan pengembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di tengah tekanan industri global yang semakin kompetitif.

Dilansir dari TechCrunch, keputusan ini diambil setelah perusahaan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari berkurangnya insentif kendaraan listrik hingga meningkatnya persaingan dari produsen asal China.

Dalam sepekan terakhir, Honda menghentikan sejumlah proyek EV yang dinilai belum menjanjikan. Perusahaan membatalkan pengembangan Acura RDX listrik serta model sedan dan SUV Honda 0 yang sebelumnya diproyeksikan sebagai kendaraan listrik murni pertama mereka.

Selain itu, Honda juga dikabarkan akan menghentikan produksi Prologue, model yang dikembangkan bersama General Motors. Faktor tarif Amerika Serikat serta tekanan dari produsen China menjadi alasan utama langkah tersebut.

Dinilai Lemah Strategi EV

Sejumlah analis menilai Honda sejak awal tidak memiliki strategi yang kuat dalam pengembangan kendaraan listrik. Keputusan menghentikan proyek EV dinilai berpotensi membuat perusahaan semakin tertinggal dalam dua tren besar industri otomotif, yakni elektrifikasi dan kendaraan berbasis perangkat lunak (software-defined vehicle/SDV).

Pendekatan produsen otomotif lama yang hanya memodifikasi platform kendaraan berbahan bakar fosil dianggap tidak efektif. Metode tersebut kerap menimbulkan masalah seperti bobot kendaraan lebih berat, efisiensi rendah, hingga biaya produksi yang tinggi.

Sebaliknya, pengembangan EV dari awal dinilai memberikan peluang menciptakan kendaraan yang lebih efisien dan berbiaya lebih rendah.

Terancam Kehilangan Momentum

Penghentian proyek ini juga membuat Honda berisiko kehilangan kesempatan penting dalam pengembangan teknologi, proses manufaktur, hingga membangun rantai pasok baru. Selain itu, perusahaan juga kehilangan peluang untuk memperoleh umpan balik konsumen terkait kebutuhan kendaraan listrik.

Di sisi lain, produsen seperti Tesla, Rivian, dan BYD telah lebih dahulu menghadirkan inovasi kendaraan berbasis perangkat lunak, termasuk pembaruan sistem secara berkala dan teknologi bantuan pengemudi yang terus berkembang.

Kondisi ini semakin menekan daya saing Honda, terutama di pasar China. Dalam laporan keuangannya, perusahaan mengakui produknya belum mampu memberikan nilai lebih dibandingkan produsen EV baru.

Situasi tersebut turut berkontribusi terhadap kerugian perusahaan yang mencapai hampir US$16 miliar pada tahun lalu. Tanpa arah strategi yang jelas di sektor kendaraan listrik, Honda dinilai berisiko menghadapi tekanan yang lebih besar di pasar global dalam beberapa tahun mendatang.

Komentar