Jakarta (Riaunews.com) – Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, mengatakan pembatasan akses anak terhadap platform digital perlu disertai dengan alternatif kegiatan yang menarik di dunia nyata.
Menurutnya, orang tua perlu berperan aktif dan kreatif dalam merancang aktivitas yang mampu menyaingi ketertarikan anak terhadap konten digital.
“Orang tua harus bekerja keras dan kreatif membuat program lain yang menyaingi apa yang biasa anak tonton di digital,” ujar Rose kepada ANTARA, Jumat.
Ia mencontohkan orang tua dapat mengajak anak mengerjakan proyek bersama di rumah, seperti membuat kerajinan, menyusun cerita, atau mengeksplorasi topik yang diminati anak.
Menurut Rose, kegiatan berbasis proyek dapat membuat anak merasa tertantang sekaligus mengurangi ketergantungan pada gawai.
Aktivitas Kreatif dan Fisik
Selain kegiatan kreatif, orang tua juga dapat mengajak anak melakukan aktivitas fisik seperti bermain sepak bola atau bola basket, terutama bagi anak usia sekolah dasar yang sedang aktif bergerak.
Kegiatan bersama tersebut dinilai dapat mempererat hubungan antara orang tua dan anak sekaligus meningkatkan komunikasi dalam keluarga.
“Dengan olahraga bersama, hubungan jadi lebih lekat dibanding hanya berada di rumah tanpa komunikasi,” katanya.
Psikolog anak Alva Paramitha menambahkan, aktivitas kreatif seperti menggambar, membuat video pendek, memotret, atau bermusik juga dapat menjadi alternatif untuk mengurangi waktu anak menatap layar gawai.
Menurutnya, aktivitas tersebut memberi ruang ekspresi bagi anak sehingga mereka tidak hanya menjadi konsumen pasif konten digital.
Selain itu, kegiatan fisik seperti olahraga, menari, atau bela diri dapat membantu anak menyalurkan energi sekaligus melatih kemampuan mengelola emosi.
Alva juga menyarankan aktivitas reflektif seperti menulis jurnal untuk membantu anak mengenali perasaan dan mengelola emosi secara lebih baik.
Anak dan remaja juga dapat diarahkan mengikuti kegiatan berbasis proyek seperti membuat podcast, blog, atau karya digital lain, serta berpartisipasi dalam klub sekolah, komunitas hobi, maupun kegiatan sukarelawan.
“Remaja butuh ruang untuk merasa mampu dan diterima. Itu bisa didapatkan dari kegiatan nyata, bukan hanya dari jumlah likes,” ujarnya.
Para psikolog menilai, dengan keterlibatan aktif keluarga, pembatasan penggunaan gawai dan platform digital dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran serta pengembangan diri anak.
