Jakarta (Riaunews.com) – Anggota Komisi X DPR RI Andi Muawiyah Ramly menilai maraknya kasus kekerasan, konflik, dan degradasi etika di lingkungan sekolah mencerminkan adanya kekeliruan serius dalam sistem pendidikan nasional. Pernyataan itu disampaikannya di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Politikus PKB yang akrab disapa Amure itu menyoroti relasi guru dan murid yang dinilai semakin kehilangan rasa hormat. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pendidikan belum sepenuhnya berjalan sesuai nilai-nilai kemanusiaan.
Amure menegaskan pendidikan seharusnya memanusiakan manusia, bukan sekadar berorientasi pada pencapaian akademik dan kelulusan semata. Ia menilai sistem pendidikan saat ini terlalu menekankan aspek kognitif, namun kurang serius dalam membangun karakter, etika, dan empati peserta didik.
Karena itu, Amure mendorong agar pembentukan karakter dijadikan fondasi utama dalam kebijakan pendidikan nasional. Ia menekankan pentingnya melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.
Menurut Amure, bulan suci Ramadan dapat dijadikan momentum refleksi untuk memperbaiki arah pendidikan nasional. Ia menegaskan Ramadan tidak boleh hanya dimaknai sebagai perubahan jadwal sekolah, melainkan sebagai kesempatan mengevaluasi dan memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan kebijakan pembelajaran selama Ramadan 2026 yang menitikberatkan pada penguatan nilai keagamaan dan pembentukan karakter. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menekan praktik kekerasan di sekolah serta menumbuhkan sikap empati, toleransi, dan kepedulian sosial di kalangan peserta didik.







Komentar