Jakarta (Riaunews.com) – Dosen Psikologi, Dr Imaduddin Hamzah, menilai fenomena bunuh diri anak yang belakangan menyita perhatian publik sebagai peristiwa yang jarang terjadi dan bersifat nasional. Ia menyebut kasus anak sekolah dasar seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Timur menjadi alarm serius bagi semua pihak.
Imaduddin menjelaskan, di negara maju, pelaku bunuh diri umumnya berasal dari kelompok remaja atau dewasa awal karena telah mampu mempersepsikan tekanan hidup sebagai beban berat. Dalam kondisi tersebut, bunuh diri kerap dipandang sebagai jalan keluar oleh pelaku.
“Kasus bunuh diri biasanya terjadi pada artis, karyawan, atau remaja yang mengalami tekanan prestasi. Mereka sudah memiliki kemampuan kognitif untuk menilai masalah hidup, meskipun penilaiannya keliru,” ujar Imaduddin kepada PRO3 RRI di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
Namun berbeda dengan anak-anak. Menurutnya, bunuh diri pada anak bukan pilihan rasional, melainkan akibat situasi tertekan yang tidak mampu mereka pahami dan selesaikan. Anak dinilai tidak memiliki kapasitas memadai untuk mencari solusi tanpa pendampingan orang dewasa.
Ia menekankan pentingnya ekosistem pendidikan yang ramah psikologis, agar standar sekolah tidak berubah menjadi tekanan bagi siswa rentan. Tekanan akademik yang berlebihan, kata dia, dapat memicu rasa malu, gagal, dan kehilangan harapan pada anak.
Selain faktor sekolah, Imaduddin menyoroti persoalan struktural seperti tekanan ekonomi keluarga dan belum akuratnya pendataan bantuan sosial. Ia menegaskan perlunya kolaborasi lintas lembaga, asesmen cepat, serta intervensi tepat sasaran guna mencegah kasus serupa terulang dan memastikan perlindungan anak berkelanjutan.







Komentar