Pakar ITB: Insentif EV Berdasarkan Jenis Baterai Dinilai Menguntungkan Indonesia

Jakarta (Riaunews.com) – Pakar industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai penerapan kebijakan insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berdasarkan jenis baterai sebagai langkah strategis yang menguntungkan Indonesia. Kebijakan ini dinilai sejalan dengan posisi Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia.

Yannes menanggapi usulan Kementerian Perindustrian yang membuka peluang pemberian insentif lebih besar bagi mobil listrik dengan baterai berbahan nikel (NCM/NCA) dibandingkan baterai lithium ferro phosphate (LFP). Menurutnya, skema tersebut dapat mendorong produsen EV, khususnya yang membangun pabrik perakitan di Indonesia, untuk beralih dari ketergantungan baterai LFP impor ke ekosistem nikel domestik.

Ia menjelaskan, baterai merupakan komponen termahal dalam kendaraan listrik dengan porsi sekitar 40–50 persen dari total biaya produksi. Penggunaan baterai berbasis nikel yang bernilai lebih tinggi diyakini dapat mempercepat pencapaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta meningkatkan nilai tambah industri nasional.

Selain itu, baterai nikel memiliki densitas energi yang lebih tinggi sehingga memungkinkan kendaraan listrik buatan Indonesia memiliki jarak tempuh lebih jauh dan spesifikasi lebih unggul dibandingkan EV berbasis LFP. Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan daya saing produk EV nasional di pasar global.

Meski demikian, Yannes mengingatkan bahwa biaya produksi baterai nikel per kWh lebih mahal dibandingkan LFP dan memerlukan sistem manajemen panas serta keselamatan yang lebih kompleks. Karena itu, ia menekankan pentingnya dukungan pemerintah agar harga EV berbasis nikel tetap terjangkau dan industri dapat tumbuh berkelanjutan.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa skema insentif otomotif pada 2026 akan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk jenis teknologi dan baterai. Ia membuka kemungkinan mobil listrik berbasis LFP memperoleh insentif lebih kecil dibandingkan EV dengan baterai berbahan nikel.

Komentar