Jakarta (Riaunews.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem terkait kemunculan bibit siklon tropis 91S di tengah masa pancaroba atau peralihan musim hujan ke kemarau. Fenomena ini berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, hingga gelombang tinggi di sejumlah wilayah.
BMKG menjelaskan, bibit siklon tropis merupakan fase awal terbentuknya siklon tropis yang ditandai dengan sirkulasi angin berputar dan meningkatnya pertumbuhan awan konvektif. Kode 91S digunakan sebagai penanda sementara untuk memantau sistem gangguan cuaca yang berpotensi berkembang menjadi badai laut.
Pada fase bibit, kecepatan angin umumnya berada di kisaran 15 hingga 34 knot dan dapat meningkat di atas 35 knot apabila didukung kondisi atmosfer yang kuat. Bibit siklon tropis 91S terpantau berkembang di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur sejak 16 Januari 2026.
Namun, berdasarkan informasi dari akun Instagram @infobmkg, sistem tersebut telah dinyatakan melemah. Berkurangnya dukungan parameter atmosfer membuat bibit siklon 91S tidak lagi berpotensi berkembang menjadi siklon tropis sejak 22 Januari 2026 pukul 01.00 WIB.
Meski melemah, kemunculan bibit siklon ini sempat berdampak pada peningkatan hujan lebat yang berisiko menimbulkan banjir dan longsor, terutama di wilayah rawan. Selain itu, perbedaan tekanan udara juga dapat memicu angin kencang, khususnya di kawasan pesisir.
Dampak lainnya adalah meningkatnya tinggi gelombang laut di Samudra Hindia bagian barat hingga selatan Indonesia, dengan ketinggian diperkirakan mencapai 2,5 hingga 4 meter. BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada dan rutin memantau informasi cuaca selama masa pancaroba guna meminimalkan risiko akibat cuaca ekstrem.







Komentar