Abu Dhabi (Riaunews.com) – Menjelang balapan terakhir Formula 1 musim 2025 di Yas Marina, dua pendekatan berbeda dalam membangun tim dan pembalap akan berhadapan dalam pertarungan penentuan gelar. Di satu pihak, Red Bull—dipimpin oleh dua mantan pembalap, Helmut Marko dan Christian Horner—tetap mengandalkan model yang menempatkan sang pembalap sebagai pusat proyek. Di pihak lain, McLaren di bawah Andrea Stella memaksimalkan kekuatan kolektif dan etos tim sebagai fondasi kesuksesan.
Dua filosofi ini, yang kontras dalam hampir setiap aspek, kini hanya dipisahkan oleh 300 kilometer balapan terakhir musim yang panjang dan melelahkan. Dan apa pun hasil akhirnya di Abu Dhabi, pihak yang gagal merebut gelar dipastikan akan menyisakan penyesalan mendalam. Dengan margin poin yang sangat tipis dan 24 akhir pekan balapan dalam kalender, rangkaian momen penting—atau kesalahan kecil—akan menjadi bahan evaluasi keras setelah bendera finis dikibarkan.
Jika Max Verstappen gagal meraih gelar, kritik terhadap Red Bull tidak akan terlalu tajam. Sistem yang sama telah membawa empat gelar pembalap dan dua titel konstruktor, sekaligus mempertahankan identitas tim selama bertahun-tahun. Namun situasi berbeda terjadi di McLaren. Setelah dua musim yang sangat solid secara kolektif—ditandai dengan gelar konstruktor pada 2024 dan 2025—gelar pembalap tetap menjadi puncak prestasi yang paling dicari dalam aspek gengsi dan visibilitas.
Dramanya semakin besar karena sepanjang 2025 Verstappen belum pernah memimpin klasemen. Jika pada akhirnya justru McLaren yang mengibarkan bendera merah atas peluangnya karena kesalahan atau kegagalan strategis, itu akan menjadi ironi menyakitkan. Bagi “tim pepaya”, Abu Dhabi bukan hanya final musim, tetapi juga ujian masa depan.
Yang dipertaruhkan lebih dari sekadar gelar pembalap: ini adalah pertarungan untuk membuktikan bahwa metode mereka—yang menolak memilih pembalap utama dan tetap memberi posisi setara bagi Lando Norris dan Oscar Piastri—benar-benar efektif. Jika salah satu dari kedua pembalap itu keluar sebagai juara dunia, Stella dan Zak Brown bisa membuktikan bahwa mereka mampu mencapai puncak tanpa hierarki internal.
Namun jika Verstappen justru meraih gelar dunia kelimanya, tekanan untuk meninjau ulang filosofi McLaren tak terelakkan. Abu Dhabi 2025 bukan hanya penutup musim—ini adalah titik balik bagi salah satu persaingan strategis paling menarik di era modern Formula 1.







Komentar