Siak (Riaunews.com) – Istana Asserayah Al-Hasyimiah atau Istana Siak kini resmi ditetapkan sebagai Museum Nasional oleh Kementerian Kebudayaan RI. Status itu disahkan melalui Nomor Pendaftaran Nasional Museum (NPNM) 14.08.U.04.0368, sebagaimana tercantum dalam surat Kementerian Kebudayaan RI Nomor 0977/L.L3/KB.13.02/2025. Penetapan ini menindaklanjuti pengajuan yang dikirimkan Dinas Kebudayaan Provinsi Riau pada 12 November 2025.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Siak, Tekad Perbatas Setia Dewa, penetapan tersebut merupakan hasil verifikasi pengajuan resmi Pemkab Siak melalui surat 400.6.2/Dispar-DIP/192 a pada 6 November 2025. Ia menyebut seluruh persyaratan telah dinyatakan lengkap sehingga Istana Siak memenuhi kriteria sebagai Museum Nasional.
Dengan status baru ini, pengelolaan Istana Siak kini berada di bawah koordinasi Dinas Kebudayaan Provinsi Riau dan Kementerian Kebudayaan. Mulai tahun depan, istana bersejarah itu juga akan ditetapkan kategori tipologinya—A, B, atau C—yang menentukan besaran Dana Alokasi Khusus (DAK) yang bisa diterima setiap tahun.
Penetapan Museum Nasional membuka peluang peningkatan dukungan pada rehabilitasi sarana dan prasarana, baik renovasi fisik maupun pembenahan interior. Meski demikian, Tekad menegaskan pemerintah daerah tetap harus aktif mengusulkan dan mengawal alokasi anggaran ke pusat. Dengan tambahan Istana Siak, kini terdapat dua situs bersejarah Kesultanan Siak yang berstatus museum nasional, bersama Museum Balairung Sri.
Istana Asserayah Al-Hasyimiah merupakan salah satu ikon sejarah Melayu di Indonesia. Bangunan yang juga dikenal sebagai Istana Matahari Timur itu dibangun pada 1889 oleh Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin, Sultan Siak XI sekaligus ayah dari Sultan Syarif Kasim II. Syarif Hasyim wafat pada 1908, dan Syarif Kasim II kemudian naik takhta pada usia 16 tahun.
Sultan Syarif Kasim II tercatat sebagai tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia dikenal tegas menolak dominasi Hindia Belanda serta secara resmi membawa Kesultanan Siak bergabung dengan Republik Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan. Ia juga menyumbangkan 13 juta gulden untuk membantu pemerintahan Indonesia pada masa awal republik, dan aktif meyakinkan raja-raja Sumatra Timur untuk turut mendukung kemerdekaan.
Dengan status Museum Nasional, Istana Siak diproyeksikan menjadi pusat pelestarian sejarah Siak Sri Indrapura sekaligus destinasi budaya yang diprioritaskan dalam perawatan dan penganggaran oleh pemerintah.







Komentar