Lebanon (Riaunews.com) – Pasukan militer Israel salah menembak personel penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) di Lebanon selatan pada Minggu (16/11/2025) waktu setempat. Insiden tersebut terjadi setelah tentara Israel awalnya menargetkan dua orang yang mereka duga sebagai tersangka di wilayah El Hamames, dekat perbatasan.
Mengutip Reuters, Senin (17/11/2025), pasukan Israel baru menyadari bahwa tembakan yang mereka lepaskan justru mengarah ke personel UNIFIL. Dalam pernyataannya, UNIFIL menyebut tank Merkava milik Israel menembakkan peluru dan senapan mesin berat, dengan salah satu tembakan mendarat hanya sekitar lima meter dari posisi pasukan penjaga perdamaian itu.
UNIFIL menyampaikan bahwa para personelnya berhasil meninggalkan lokasi sekitar 30 menit kemudian setelah tank Israel mundur. Badan penjaga perdamaian itu menilai penembakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, yang mengakhiri perang 2006 antara Israel dan Hizbullah serta menjadi dasar gencatan senjata yang diperbarui pada November 2024.
“Sekali lagi, kami menyerukan kepada militer Israel untuk menghentikan segala perilaku agresif dan serangan terhadap atau di dekat pasukan penjaga perdamaian,” tegas UNIFIL dalam pernyataan yang dikutip dari Al Jazeera.
Militer Israel mengklaim insiden itu terjadi karena kondisi cuaca buruk yang membuat mereka salah mengidentifikasi pasukan UNIFIL sebagai musuh. Pernyataan itu dikeluarkan sebagai respons atas kritik keras dari PBB.
Insiden salah tembak ini bukan yang pertama. Pada September 2025, UNIFIL melaporkan bahwa drone Israel menjatuhkan empat granat di dekat area operasinya di Lebanon selatan, dengan salah satu granat mendarat hanya 20 meter dari personel dan kendaraan PBB.







Komentar