Oleh Nasywa Alwia
Mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Sastra UPBI
Sungai Siak, dulunya menjadi kebanggaan masyarakat Riau, namun kini berubah menjadi simbol dari krisis ekologis yang kita abaikan. Airnya keruh, berbau, dan penuh sampah plastik. Gambaran ini bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan tanda bahwa hubungan manusia dengan alam sedang retak. Sungai yang dahulu menjadi nadi kehidupan kini perlahan berubah menjadi saluran limbah yang memantulkan wajah abai kita sendiri.
Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru menunjukkan bahwa lebih dari separuh pencemar berasal dari aktivitas rumah tangga. Angka ini menampar kesadaran kita, sebab pencemaran bukan hanya akibat industri besar, tetapi perilaku sehari-hari masyarakat. Dari plastik sekali pakai, sisa makanan, hingga deterjen, semua mengalir tanpa rasa bersalah ke sungai yang dahulu menjadi sumber air bersih dan kehidupan.
Penelitian Universitas Riau (2024) mengungkap kandungan mikroplastik mencapai 0,31 partikel per liter di air Sungai Siak. Angka itu terdengar kecil, tetapi dampaknya besar. Mikroplastik masuk ke tubuh ikan, lalu ketika ikan dikonsumsi, secara langsung berpindah ke tubuh manusia, saai itu terjadi, kita sebenarnya sedang menelan sisa ketidakpedulian kita sendiri.
Keterangan warga yang mencium bau bensin dari air sungai menunjukkan persoalan lain yang lebih gelap, adanya indikasi limbah cair dan bahan bakar yang dibuang langsung ke sungai. Aktivitas ekonomi kecil di tepi sungai menjadi penyumbang, namun tanggung jawab pengawasan seolah tak berdaya. Pemerintah hadir dalam bentuk aturan, tapi absen dalam penegakan.
Minimnya fasilitas pembuangan sampah, ditambah rendahnya kesadaran masyarakat, menciptakan lingkaran setan pencemaran. Di satu sisi, warga membuang sampah karena tidak tersedia tempat pembuangan memadai. Di sisi lain, pemerintah bersembunyi di balik kebijakan yang lebih sering berhenti di tataran seremonial. Ketika program bank sampah dan larangan kantong plastik hanya berlaku di beberapa titik kota, bagaimana nasib kawasan padat di pinggiran sungai?

Temuan Ekspedisi Sungai Siak 2025 oleh komunitas Humendala menegaskan situasi kritis ini. Limbah cair dari industri rumah tangga masih mengalir tanpa pengolahan. Nelayan kehilangan mata pencaharian karena ikan semakin jarang. Warga mengeluhkan penyakit kulit akibat air tercemar. Semua ini bukan sekadar “masalah lingkungan”, melainkan krisis kemanusiaan.
Ironisnya, kebijakan dan aksi bersih sungai kerap berhenti pada momentum kegiatan seremonial saja. Foto gotong royong membersihkan sungai beredar di media, tetapi keesokan harinya, plastik kembali mengapung di permukaan air. Kita lebih sibuk menata citra hijau daripada benar-benar berkomitmen pada perubahan perilaku.
Pemerintah, komunitas, akademisi, dan dunia usaha seharusnya tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Penegakan hukum lingkungan harus menjadi prioritas, bukan formalitas. Setiap pelanggaran pembuangan limbah perlu ditindak, bukan dinegosiasikan. Di sisi lain, edukasi lingkungan harus masuk ke rumah, sekolah dan ruang publik agar masyarakat sadar bahwa menjaga sungai berarti menjaga kehidupan mereka sendiri.
Sungai Siak dapat dijadikan cermin kesadaran ekologis masyarakat Riau. Ketika airnya kotor, itu pertanda kesadaran kita pun keruh. Membersihkan sungai ini berarti membersihkan cara berpikir kita tentang alam. Jika kita terus memandang sungai hanya sebagai tempat pembuangan, maka generasi mendatang akan mewarisi bukan kejernihan air, melainkan endapan kesalahan kita sendiri.
Menjaga Sungai Siak bukan tugas pemerintah semata. Ini adalah ujian moral seluruh masyarakat Riau. Sebab sungai yang mati bukan karena airnya mengering, melainkan karena hati manusia di sekitarnya berhenti peduli.







Komentar