PHR dan UMRI Kembangkan Desa Wisata Berbasis Komunitas di Hutan Adat Imbo Putui

Kampar, Utama230 Dilihat

Kampar (Riaunews.com) – Di tengah rimbunnya pepohonan dan semilir angin yang membawa aroma tanah basah, Hutan Adat Imbo Putui di Desa Petapahan, Kabupaten Kampar, menjadi simbol kearifan lokal yang terus dijaga. Kawasan seluas 251 hektare ini kini memasuki babak baru melalui kolaborasi antara PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) dalam memperkuat kapasitas pengelolaan desa wisata berbasis komunitas.

Melalui pelatihan Community-Based Tourism (CBT) yang digelar pada pertengahan Agustus 2025, masyarakat lokal, perangkat desa, dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dilatih untuk menjadi penggerak utama pariwisata berkelanjutan. Pelatihan tersebut menghadirkan Hannif Andy Al Anshori, pendiri Desa Wisata Institute, yang berbagi praktik baik dari berbagai desa wisata di Indonesia. “Desa wisata akan berhasil jika masyarakatnya mampu berperan aktif, mulai dari perencanaan, pengelolaan, hingga pemasaran produk wisata. Dengan begitu, manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh warga desa,” ujar Hannif.

Pelatihan tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik dan simulasi. Peserta diajak merancang atraksi wisata berbasis komunitas yang mengangkat kekayaan alam dan budaya lokal tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Kegiatan ini menjadi langkah awal bagi masyarakat Petapahan untuk mengembangkan Hutan Adat Imbo Putui sebagai destinasi ekowisata unggulan Riau.

Program tersebut merupakan bagian dari inisiatif Community Involvement & Development (CID) PHR yang bekerja sama dengan UMRI sebagai mitra akademik. Tujuannya adalah menjadikan Hutan Adat Imbo Putui sebagai model pengelolaan hutan adat yang berkelanjutan dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Hutan Adat Imbo Putui memiliki nilai ekologis dan budaya tinggi. Berbagai flora langka seperti anggrek, kantong semar, dan tanaman obat tumbuh di dalamnya, sementara fauna seperti burung endemik, mamalia, dan reptil hidup berdampingan. Sejak diresmikan sebagai hutan adat pertama di Riau oleh Presiden Joko Widodo pada 21 Februari 2020, kawasan ini terus berbenah menjadi ruang konservasi sekaligus ruang belajar dan ruang hidup bagi masyarakat.

“Program Desa Wisata Hutan Adat Imbo Putui merupakan komitmen PHR untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat Riau. Tidak hanya berfokus pada ketahanan energi, kami juga mendukung keberlanjutan lingkungan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Iwan Ridwan Faizal, Manager CID PHR Regional I. Melalui konsep CBT, masyarakat kini melihat hutan bukan hanya sebagai ruang konservasi, melainkan sumber harapan baru untuk masa depan ekonomi dan sosial yang lebih berkelanjutan.

Komentar