F1 Ferrari di Titik Terendah: Dari Dominasi Austin ke Krisis Internal di Musim 2025

Motorsport230 Dilihat

Pekanbaru (Riaunews.com) – Setahun lalu, Ferrari tampil gemilang di Austin dengan kemenangan satu-dua melalui Charles Leclerc dan Carlos Sainz. Hasil itu sempat menjaga asa Scuderia untuk menantang McLaren dalam perebutan gelar konstruktor hingga seri terakhir di Abu Dhabi. Namun, setahun berselang, situasinya berbalik drastis. Kini, Ferrari tertinggal 352 poin dari McLaren dan bahkan harus puas berada di belakang Mercedes yang kembali bangkit.

Kekalahan di F1 GP Singapura menjadi puncak dari serangkaian masalah internal yang menyingkap rapuhnya sistem yang dibangun oleh Fred Vasseur. Meski belum ada perombakan besar hingga akhir musim, Ferrari dikabarkan tengah meninjau langkah strategis untuk memperbaiki koordinasi antara tim pabrikan dan kru lintasan yang kian kehilangan sinkronisasi. SF-25 yang seharusnya kompetitif justru tampil inkonsisten akibat perbedaan pendekatan teknis di kedua sisi.

Direktur teknis Loic Serra kini memegang kunci untuk menyeimbangkan dinamika tersebut. Dalam beberapa balapan terakhir, Ferrari mencoba pendekatan ekstrem pada setelan mobil demi mencari performa maksimal, namun hasilnya justru berujung bencana. Di Singapura, mobil yang semula menjanjikan justru terpaksa diubah karena terlalu rendah dan berisiko melanggar regulasi teknis. Akibatnya, para pembalap harus beradaptasi dengan mobil yang sulit dikendalikan dan kehilangan kecepatan di fase-fase krusial balapan.

Krisis teknis juga menyeret Matteo Togninalli, Kepala Track Engineering Ferrari, ke dalam sorotan. Ia dituding menjadi biang kegagalan setelan mobil, meski banyak pihak di internal menilai Togninalli adalah sosok dengan kapasitas tinggi dan dedikasi besar. Sumber di dalam tim menyebut perbedaan pendapat teknis sering kali terjadi, namun belum mencapai titik yang mengancam struktur kerja Ferrari secara keseluruhan.

Di luar lintasan, Ferrari juga terguncang secara finansial. Saham mereka anjlok setelah laporan proyeksi pertumbuhan lima tahun yang dianggap terlalu konservatif dirilis pada Hari Pasar Modal. Menyikapi tekanan besar dari publik dan media, manajemen Ferrari memilih untuk menutup diri dan menahan komentar—sebuah strategi defensif yang dianggap sebagian pengamat sebagai tanda krisis kepercayaan.

Kini, harapan Ferrari bertumpu pada proyek mobil baru, berkode 678, yang sedang dikembangkan di markas Maranello. Fred Vasseur diberi waktu untuk membuktikan bahwa timnya masih mampu bersaing di era baru Formula 1. Namun, dengan kondisi internal yang terfragmentasi dan tekanan dari para pendukung yang kian besar, jalan kebangkitan Ferrari tampak lebih menantang dari sebelumnya.

Komentar