Jenewa (Riaunews.com) – Federasi Otomotif Internasional (FIA) menggelar pertemuan dengan para insinyur tim Formula 1 di Jenewa, Senin (15/9/2025), usai GP Italia. Pertemuan tersebut membahas kemungkinan perubahan pada regulasi mobil single-seater tahun 2026 yang akan membawa revolusi teknis besar.
Salah satu topik utama yang diangkat adalah wacana untuk mengubah kotak regulasi yang mendefinisikan bentuk dan fungsi sayap depan maupun belakang. FIA menilai ada kebutuhan untuk menyederhanakan pengembangan aerodinamika bergerak, meski usulan tersebut tidak mendapat persetujuan penuh dari tim.
Menurut laporan Motorsport.com, sejumlah tim menolak usulan itu karena menilai perubahan mendadak pada September akan mengganggu riset yang sudah berjalan. Beberapa di antaranya juga disebut masih ingin mempertahankan keuntungan teknis dari studi aerodinamika yang resmi dibuka FIA sejak awal tahun.
Meski ditolak, FIA tetap fokus mencari solusi terkait efisiensi aerodinamis mobil 2026. Tujuannya adalah mengurangi konsumsi daya sepanjang balapan, terutama di trek dengan sedikit titik pengereman. Kondisi ini berpotensi membuat sistem hibrida kekurangan energi karena MGU-K kesulitan memulihkan daya.
Contoh paling jelas adalah Monza, di mana minimnya pengereman membuat baterai berisiko kosong sebelum satu putaran selesai. Situasi ini dapat memaksa pembalap melakukan lift and coast di lintasan lurus agar tenaga sekitar 500 hp dari sistem hibrida tetap terjaga.
Diskusi ini menyoroti tantangan besar Formula 1 dalam menjaga keseimbangan regulasi teknis. Dengan sistem tata kelola yang membutuhkan suara bulat untuk setiap perubahan, upaya penyempurnaan regulasi kerap terhambat. Kondisi tersebut menguatkan pernyataan CEO F1, Stefano Domenicali, yang menilai arsitektur manajemen F1 perlu diperbarui.







Komentar