Psikolog: Tantrum karena Gawai Bisa Jadi Tanda Awal Kecanduan pada Anak

Utama1086 Dilihat
Ilustrasi kecanduan gawai

Jakarta (Riaunews.com) – Anak yang mengalami tantrum saat dijauhkan dari gawai berpotensi menunjukkan tanda-tanda awal kecanduan. Hal ini disampaikan oleh psikolog klinis dan keluarga, Pritta Tyas, M.Psi, dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Kamis (3/7) malam.

“Harus ada yang dibetulkan dulu, berarti mungkin dia sudah ada tanda-tanda adiksi kalau sampai tantrum,” kata Pritta, psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada itu.

Menurutnya, gejala tersebut umumnya muncul karena anak kekurangan aktivitas fisik, terutama kurang bermain di luar ruangan. Akibatnya, perhatian anak hanya tertuju pada permainan yang melibatkan ponsel. Pritta juga menilai peran orang tua sangat penting dalam mengawasi penggunaan gawai sejak dini.

“Orang tuanya mungkin kurang mendampingi atau terlalu kecil usia ketika dikasih gawai,” ujarnya.

Jika anak sudah menunjukkan gejala adiksi, Pritta menyarankan agar orang tua segera mengambil alih gawai tersebut. Dalam menghadapi tantrum, langkah pertama yang harus dilakukan orang tua adalah memastikan keamanan anak, kemudian menemaninya selama luapan emosi berlangsung.

“Biarkan anak menangis dan tunggu sampai dia tenang. Setelah itu, bisa diberikan bantuan seperti menawarkan minum atau mengeringkan badan,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya memvalidasi emosi anak, misalnya dengan mengatakan, “Mama tahu kamu marah, tapi sekarang waktunya udah habis.”

Pritta merekomendasikan agar anak mulai dikenalkan pada konten digital secara bertahap, dimulai pada usia minimal tiga tahun dengan durasi maksimal satu jam per hari, dibagi dalam sesi 15 menit. Anak diperbolehkan bermain gawai secara aktif mulai usia 4-5 tahun, dan baru memiliki perangkat pribadi idealnya pada usia 8-9 tahun, saat anak sudah mulai membutuhkan alat untuk menunjang kegiatan sekolah.

Dalam mencegah ketergantungan, orang tua diminta untuk aktif mencarikan alternatif kegiatan seperti mengajak anak bermain di luar ruangan atau aktivitas tanpa layar. Selain itu, aturan penggunaan gawai harus dibangun bersama anak.

“Harus ada kesepakatan, misalnya gawai tidak dibawa ke kamar, hanya digunakan di ruang keluarga atau kamar orang tua, dan batas pemakaian maksimal sampai jam tertentu,” ujar Pritta yang juga merupakan pendiri BN Montessori.

Ia mengingatkan, gejala lain kecanduan gawai selain tantrum antara lain adalah kecemasan saat dijauhkan dari perangkat, kehilangan minat pada aktivitas lain, serta kebingungan saat tidak memegang gawai.

“Ini semua menjadi sinyal bagi orang tua untuk segera mengambil langkah pengendalian, sebelum ketergantungan semakin dalam,” tutup Pritta.

Komentar