Jakarta (Riaunews.com) – Aksi pembajakan armada kapal Global Sumut Flotilla oleh pasukan angkatan laut Israel di Laut Mediterania memicu kecaman luas. Kapal yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza itu ditahan bersama puluhan aktivis internasional yang berada di dalamnya.
Berdasarkan wawancara BeritaSatu, Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Zain Maulana, menilai tindakan Israel tersebut sebagai bentuk upaya sistematis untuk menghentikan masuknya bantuan ke Gaza. Ia menegaskan bahwa serangan terhadap kapal kemanusiaan di laut internasional merupakan pelanggaran berat hukum internasional.
“Armada flotilla hanya membawa pangan dan obat-obatan, tidak bisa dianggap ancaman. Jadi, penangkapan terhadap aktivis dari lebih 40 negara itu sama saja dengan penculikan,” ujar Zain, Jumat (3/10/2025). Menurutnya, Israel dengan sengaja menutup semua jalur bantuan, baik darat maupun laut, untuk mengosongkan Gaza.
Zain juga mengkritik sikap lemah negara-negara Eropa seperti Spanyol dan Italia. Kedua negara sempat mengirim kapal perang untuk mengawal flotilla, namun akhirnya menarik mundur armadanya. “Kalau mereka konsisten, tekanan internasional terhadap Israel akan jauh lebih kuat. Sayangnya, kepentingan politik membuat dukungan itu surut meski warga mereka menolak,” tegasnya.
Ia menilai Indonesia harus mengambil langkah lebih tegas. Sekadar mengeluarkan kecaman dinilai tidak cukup menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin parah di Palestina. “Indonesia bisa memimpin upaya global dengan menggandeng negara lain untuk mengawal bantuan. Dengan kekuatan kolektif, Israel tidak akan mudah menyerang seperti sekarang,” jelas Zain.
Menurutnya, kegagalan dunia internasional memberi respons tegas hanya akan memperkuat impunitas Israel. “Kalau dibiarkan, aksi genosida ini akan terus berlangsung tanpa ada pihak yang benar-benar menghentikan,” pungkasnya.







Komentar