Generasi Emas Dicekik Asap, Dimana Perisai Negara untuk Rakyatnya?

Kesehatan, Opini23 Dilihat

Oleh Lahma Kamelia, Aktivis Peduli Generasi

Dari Riau hingga Kalimantan, langit sama-sama kelabu. Bukan karena mendung, tapi karena asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang pekat.

Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan RI per 17-18 Oktober 2026 terdapat lebih dari 300.000 kasus warga sesak napas dan yang paling tragis 70.000 lebih diantaranya adalah balita.

Secara rinci, tercatat 311.363 kasus ISPA di 65 kabupaten/kota di 7 provinsi terdampak Karhutla: Riau, Sumsel, Jambi, Kalbar, Kalteng, Kaltim, dan Kalsel. Yang paling memilukan, 70.239 kasus atau 22,6% di antaranya adalah balita di bawah 5 tahun. Bahkan menurut Kemenkes SDMK, khusus balita usia 0-5 tahun yang terdampak mencapai 62.400 kasus. Puluhan ribu paru-paru mungil sedang berjuang melawan racun.

Berdasarkan unggahan Kemenkes RI di akun resmi Instagram @kemenkes_ri, Kemenkes telah mengerahkan 2.106 tenaga medis, menjangkau 1.691 puskesmas di wilayah terdampak, serta mendistribusikan bantuan logistik kesehatan.

Namun di tengah pengerahan tersebut, fakta di lapangan menunjukkan penanganan belum optimal. Di saat ratusan ribu warga termasuk puluhan ribu balita sesak napas, fasilitas layanan primer masih kewalahan. Tak sedikit orang tua yang membawa anaknya dalam kondisi sesak harus dirujuk jauh karena keterbatasan alat bantu pernapasan di tingkat puskesmas.

Mengapa balita yang paling menjadi korban?

Secara medis, ini bukan kebetulan. Saluran pernapasan anak-anak masih sempit dan paru-parunya masih dalam tahap berkembang. Kondisi ini membuat mereka sangat mudah mengalami peradangan dan penyempitan saat menghirup udara kotor.

Asap Karhutla membawa racun seperti partikel halus PM2,5, karbon monoksida, dan senyawa kimia berbahaya. Partikel mikroskopis ini dapat masuk jauh ke paru-paru anak dan memicu ISPA, asma, hingga pneumonia.

Dan karhutla ini bukan bencana yang datang tiba-tiba. Ini adalah bencana yang berulang. Setiap musim kemarau, kita sudah tahu asap akan datang. Jika negara masih gagap dengan bencana yang polanya sudah bisa ditebak, ini menunjukkan negara lalai menjaga kesehatan generasi yang digadang-gadang sebagai generasi emas.

Padahal dampaknya tidak selesai ketika asap hilang. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), paparan asap karhutla yang terjadi berulang kali dapat mengganggu pertumbuhan paru-paru secara permanen dan menghambat tumbuh kembang anak dalam jangka panjang.

Lalu, bagaimana Islam memandang ini?

Dalam Islam, negara adalah junnah (perisai) dan ra’in (pengelola) bagi rakyatnya. Fungsinya bukan hanya mengobati ketika sudah sakit, tapi mencegah agar rakyat tidak sakit.

Sebagai perisai, negara akan bergerak cepat karena menyangkut nyawa. Ia tidak akan berhitung untung-rugi APBN. Ia akan mengerahkan seluruh sumber daya dari Baitul Maal untuk evakuasi dan pengobatan gratis terbaik.

Sebagai pengelola:

Pertama, negara akan menyelesaikan akar masalah: menindak tegas korporasi pembakar lahan tanpa pandang bulu, mengelola lahan gambut dengan teknologi terbaik, dan melakukan reboisasi yang serius.

Kedua, negara akan melakukan mitigasi proaktif dengan teknologi satelit dan patroli sebelum api membesar, bukan menunggu api sudah meluas.

Ketiga, negara akan memenuhi sarana kesehatan secara merata. Mustahil ada puskesmas di wilayah rawan karhutla yang tidak memiliki nebulizer dan oksigen.

Asap ini akan hilang ditiup angin. Tapi luka di paru-paru ribuan balita akan membekas seumur hidup. Negara yang lalai menjaga napas rakyatnya hari ini, sedang menggadaikan masa depan bangsanya sendiri. Islam telah menunjukkan, perisai itu ada, tinggal maukah kita mengambilnya.

Wallahu a’lam bishawab.

 

Komentar