Oleh Asyifa Queen Zahabya
Ada masa ketika pertanyaan sederhana seperti “Nanti mau jadi apa?” terdengar biasa saja. Namun, semakin bertambah usia, pertanyaan itu bisa terasa seperti tuntutan yang harus segera dijawab. Kita mulai memikirkan jurusan kuliah, pekerjaan, masa depan, dan apakah pilihan yang diambil hari ini akan menentukan seluruh kehidupan esok hari.
Di saat yang sama, kita melihat orang lain seolah-olah sudah menemukan jalannya. Ada yang berhasil masuk perguruan tinggi impian, memperoleh pekerjaan, membangun usaha, atau meraih pencapaian yang membuat banyak orang kagum.
Tanpa sadar, kehidupan orang lain berubah menjadi tolok ukur untuk menilai diri sendiri.
Persoalannya bukan karena anak muda tidak memiliki tujuan. Justru, banyak yang ingin memiliki masa depan baik, membanggakan keluarga, dan menjalani kehidupan yang bermakna. Namun, keinginan itu kadang berubah menjadi tekanan ketika kita merasa harus mengetahui semua jawaban sejak dini.
Padahal, masa muda bukan hanya tentang menentukan tujuan akhir. Masa ini juga merupakan kesempatan untuk mencoba, belajar, mengenali kemampuan diri, dan memahami hal-hal yang benar-benar penting bagi kita. Tidak semua orang harus memiliki peta kehidupan yang lengkap sebelum mulai melangkah.
Ketika Masa Depan Terasa Seperti Perlombaan
Kehidupan anak muda hari ini dipenuhi berbagai pilihan, tetapi banyaknya pilihan tidak selalu membuat keputusan menjadi lebih mudah. Kita bisa memilih beragam bidang pendidikan, pekerjaan, dan cara menjalani hidup.
Namun, di balik kesempatan tersebut, muncul pertanyaan yang tidak kalah besar: bagaimana jika kita salah memilih?
Tekanan itu semakin terasa ketika pencapaian orang lain mudah terlihat. Media sosial memperlihatkan kabar kelulusan, pekerjaan baru, beasiswa, perjalanan, hingga keberhasilan membangun sesuatu pada usia muda.
Unggahan tersebut mungkin memang menggambarkan kebahagiaan yang nyata. Akan tetapi, yang terlihat di layar hanyalah sebagian dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan proses yang dilaluinya.
Ketika terus membandingkan diri dengan potongan kehidupan orang lain, kita bisa merasa tertinggal meskipun sebenarnya sedang berusaha. Kita mulai mempertanyakan kemampuan sendiri hanya karena orang lain terlihat lebih cepat sampai ke tujuan.
Ketidakpastian mengenai masa depan juga bukan persoalan yang sepenuhnya dibuat-buat. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), dalam laporan Teenage Career Uncertainty pada 2024, menyebutkan bahwa sekitar dua dari lima pelajar berusia 15 tahun di negara-negara OECD belum memiliki rencana karier yang jelas. Laporan tersebut juga mencatat bahwa ketidakpastian karier meningkat dibandingkan 2018.
Angka itu tidak berarti semua anak muda mengalami persoalan yang sama. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa menentukan arah masa depan bukan perkara sederhana bagi banyak pelajar.
Karena itu, ketidakpastian tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bukti kemalasan atau ketidakmampuan.
Psikolog Jeffrey Jensen Arnett juga memperkenalkan konsep emerging adulthood, yaitu fase perkembangan yang berfokus terutama pada usia 18–25 tahun. Dalam kajiannya, periode ini ditandai oleh eksplorasi identitas dan proses mencari tahu peran serta arah hidup seseorang .
Konsep tersebut tidak berlaku dengan cara yang sama bagi semua orang dan setiap kebudayaan, tetapi memberikan sudut pandang bahwa proses mengenali diri merupakan bagian penting dari perkembangan.
Sayangnya, lingkungan terkadang lebih menghargai hasil daripada proses. Kita mudah memuji seseorang yang sudah berhasil, tetapi jarang memberi ruang yang sama kepada mereka yang sedang mencoba, mengubah keputusan, atau memulai kembali.
Akibatnya, sebagian anak muda mungkin merasa harus segera tampak berhasil, bahkan ketika mereka sendiri belum memahami apa yang sebenarnya diinginkan.
Padahal, keputusan yang dibuat hanya demi memenuhi harapan orang lain belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan diri.
Bertumbuh Tidak Harus Berarti Selalu Tahu Arah
Jika ketidakpastian merupakan bagian dari proses mencari arah, lantas apa yang bisa dilakukan? Jawabannya bukan berhenti merencanakan masa depan, melainkan mengubah cara kita memperlakukan proses tersebut.
Pertama, kita perlu memahami bahwa rencana hidup boleh berkembang. Pilihan jurusan, cita-cita, atau pekerjaan yang kita inginkan hari ini tidak harus menjadi keputusan yang berlaku selamanya.
Pengalaman baru dapat mengubah cara pandang, memperlihatkan kemampuan yang sebelumnya tidak disadari, atau membantu kita memahami bahwa suatu pilihan ternyata tidak cocok.
Mengubah arah bukan otomatis berarti gagal. Selama perubahan itu didasari pertimbangan dan pembelajaran, kita justru sedang menggunakan pengalaman untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
Selanjutnya, daripada menuntut diri sendiri menemukan satu jawaban besar, kita bisa memulai dari langkah kecil. Pelajar yang belum mengetahui pekerjaan impiannya dapat mencoba mengenali mata pelajaran yang disukai, mencari informasi tentang berbagai bidang, mengikuti kegiatan yang relevan, atau berbicara dengan guru dan orang tepercaya.
Mereka yang sedang mempertimbangkan pilihan pendidikan juga dapat membandingkan minat, biaya, kesempatan, dan persyaratan setiap pilihan.
Laporan OECD tahun 2025 mengenai persiapan karier remaja menekankan pentingnya kegiatan pengembangan karier dan akses terhadap informasi serta bimbingan. Artinya, membantu anak muda menentukan arah bukan sekadar menyuruh mereka segera mengambil keputusan, tetapi juga menyediakan kesempatan untuk mengenal pilihan yang tersedia .
Selanjutnya, kita perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial sebagai sumber perbandingan. Melihat pencapaian orang lain boleh menjadi inspirasi, tetapi tidak perlu dijadikan alasan untuk merendahkan diri sendiri.
Setiap orang memiliki kondisi keluarga, akses pendidikan, sumber daya, dan kesempatan yang berbeda. Membandingkan hasil tanpa memahami perbedaan tersebut dapat menghasilkan penilaian yang tidak adil.
Terakhir, lingkungan keluarga, sekolah, dan pertemanan perlu memberi ruang bagi percakapan tentang masa depan tanpa menjadikannya ajang penghakiman. Pertanyaan seperti “Apa yang ingin kamu coba?” atau “Bantuan apa yang kamu butuhkan?” dapat membuka diskusi yang lebih sehat daripada terus-menerus menanyakan kapan seseorang akan berhasil.
Tentu saja, menerima ketidakpastian bukan berarti menghindari tanggung jawab. Anak muda tetap perlu belajar membuat keputusan, menimbang konsekuensi, dan menjalankan rencana.
Namun, tanggung jawab tidak harus disertai tuntutan untuk mengetahui seluruh perjalanan sejak awal.
Pada akhirnya, bertambahnya usia memang membawa tanggung jawab yang lebih besar, tetapi tidak berarti semua pertanyaan tentang hidup harus langsung terjawab.
Ada hal-hal yang baru kita pahami setelah mencoba, mengalami kegagalan, menerima masukan, dan bertemu dengan kesempatan yang tidak pernah direncanakan.
Kita tidak perlu menunggu sampai benar-benar yakin untuk mulai melangkah. Kita juga tidak harus memiliki pencapaian yang sama dengan orang lain agar perjalanan kita dianggap berarti.
Sebab, masa depan bukan ujian yang mengharuskan setiap orang memberikan jawaban seragam pada waktu yang sama. Terkadang, langkah paling penting bukanlah mengetahui dengan pasti akan menjadi siapa kita nanti, melainkan berani memulai, bersedia belajar, dan memberi diri sendiri kesempatan untuk bertumbuh.







Komentar