OMC Dinilai Efektif Tangani Karhutla Riau, Potensi Air Hujan Capai 170 Juta Meter Kubik

Pekanbaru (Riaunews.com) – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dinilai efektif membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Melalui penyemaian awan, hujan yang dihasilkan berpotensi membawa air hingga sekitar 170 juta meter kubik.

Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru Kolonel Andri Setiawan mengatakan efektivitas OMC terlihat dari volume air yang dihasilkan dibandingkan pemadaman secara manual maupun operasi water bombing.

“Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bisa kita katakan sangat efektif karena, dengan dibantu dengan OMC, air hujan yang turun bisa mencapai 170 juta kubik air, dari data BMKG. Sehingga jika kita komparasi dengan pemadaman yang dilakukan manual melalui darat, atau dengan water bombing yang hanya 200 ribu liter air, bisa kita bandingkan bahwa OMC sangat signifikan,” kata Andri.

Keberhasilan OMC Bergantung Kondisi Awan

Meski efektif, Andri menegaskan OMC tidak dapat dilakukan sembarangan. Pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi alam, khususnya ketersediaan awan yang berpotensi berkembang menjadi awan hujan atau awan konvektif.

Menurutnya, dampak OMC sudah dirasakan dalam beberapa hari terakhir. Penyemaian garam pada awan yang memenuhi syarat memicu hujan di sejumlah wilayah Riau. Bahkan, beberapa titik api dilaporkan langsung padam setelah wilayah tersebut diguyur hujan.

“Kita rasakan bersama beberapa hari lalu, kita semai garam, cukup merata hujan terjadi di sejumlah wilayah, beberapa titik api juga langsung padam dengan turunnya hujan,” jelasnya.

Selain keberadaan awan, tim juga mempertimbangkan arah dan kecepatan angin sebelum melakukan penyemaian. Faktor tersebut penting untuk memperkirakan pergerakan awan dan lokasi turunnya hujan.

“Selain itu, kita juga memperhatikan kondisi angin, baik kecepatan maupun arahnya. Sehingga kita bisa prediksi hujannya akan turun di mana,” katanya.

BMKG Analisis Lokasi Penyemaian

Andri mencontohkan penyemaian di Bengkalis akan sia-sia apabila awan yang menjadi sasaran justru bergerak akibat angin menuju Selat Malaka. Karena itu, tim terus berkoordinasi dengan BMKG untuk menentukan waktu dan lokasi penyemaian yang tepat.

“Contoh, misalnya kita semai garam di daerah Bengkalis, lalu awannya malah terdorong angin ke Selat Malaka, ini kan mubazir,” tuturnya.

Ia mengatakan BMKG terus menganalisis potensi awan konvektif, termasuk arah dan kecepatan angin, sebagai dasar pelaksanaan OMC. Hujan yang dihasilkan diharapkan turun di lokasi yang membutuhkan, terutama kawasan yang terbakar atau lahan yang perlu dibasahi untuk mencegah meluasnya karhutla.

“Sehingga, turunnya hujan kita harapkan bisa tepat berada di lokasi atau lahan-lahan yang terbakar. Atau lahan yang ingin kita basahi, sehingga bisa menekan terjadinya karhutla,” pungkasnya.

Komentar