Kampar (Riaunews.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, telah berlangsung selama 12 hari. Hingga Minggu (23/8/2026), luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 10 hektare, bertambah 1,2 hektare dari sebelumnya 8,8 hektare.
Petugas gabungan masih berjibaku mengendalikan kobaran api yang bergerak di tengah cuaca panas dan angin kencang. Sejumlah petugas bahkan harus berlari sambil memikul selang menuju titik api untuk memutus pergerakan kobaran agar tidak menjalar ke areal lainnya.
Cuaca Panas dan Keterbatasan Air
Kepala Manggala Agni Daops Sumatera IV Pekanbaru, Firza Causar, mengatakan penambahan luas lahan terbakar dipengaruhi kondisi cuaca serta banyaknya semak belukar yang menjadi bahan bakar api.
“Hari ini bertambah 1,2 hektare karena cuaca panas, angin kencang, dan bahan bakar semak belukar masih banyak,” kata Firza.
Petugas membagi penanganan menjadi dua titik untuk mempercepat proses pemadaman. Mobil tangki dikerahkan, sedangkan embung di sekitar lokasi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air. Namun, keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala utama dalam operasi pemadaman.
“Kita sangat kesulitan. Tak ada air,” ujarnya.
Pemadaman Didukung Water Bombing
Selain keterbatasan air, tiupan angin kencang juga membuat api lebih cepat bergerak. Kondisi tersebut menyulitkan petugas mengendalikan kobaran yang belum sepenuhnya padam.
“Selain kesulitan air, angin kencang juga menjadi hambatan tim di lapangan,” ungkapnya.
Untuk menjangkau titik yang sulit ditangani dari darat, pemadaman turut mendapat dukungan helikopter water bombing. Helikopter dikerahkan untuk mengguyur area yang masih terbakar dan sulit dijangkau petugas. Tim di lapangan kini fokus memutus arah pergerakan kepala api sekaligus mencegah kobaran meluas ke lahan yang belum terbakar.






Komentar