Kualitas Udara Pekanbaru Memburuk, Warga Diimbau Kurangi Aktivitas Luar Rumah

Pekanbaru (Riaunews.com) – Kualitas udara di Kota Pekanbaru memburuk dan masuk kategori tidak sehat. Kabut asap putih terlihat cukup tebal menyelimuti sejumlah wilayah Kota Pekanbaru pada Senin (24/8/2026) pagi.

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (23/8/2026) pukul 17.00 hingga 21.00 WIB, konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Pekanbaru berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Konsentrasinya berkisar 170,2 hingga 235,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru melalui Dinas Kesehatan (Diskes) mengingatkan masyarakat agar mengantisipasi dampak kabut asap terhadap kesehatan.

Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar

Sekretaris Diskes Kota Pekanbaru Deddy Sambudi meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara memburuk.

“Pertama, kami mengimbau warga agar mengurangi aktivitas di luar rumah,” kata Deddy.

Ia mengatakan masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah perlu menggunakan masker. Deddy juga mengimbau warga memperbanyak konsumsi air putih untuk menjaga kondisi tubuh.

“Segera mencari pelayanan kesehatan Puskesmas jika ada keluhan kesehatan,” ujarnya.

Pemko Pekanbaru menyediakan 21 puskesmas yang tersebar di 15 kecamatan untuk melayani masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi udara.

376 Kasus ISPA Tercatat dalam Tiga Pekan

Diskes Pekanbaru mencatat 376 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mendapat penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan selama tiga pekan terakhir sejak awal Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 367 kasus merupakan ISPA nonpneumonia, sedangkan sembilan kasus masuk kategori pneumonia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Diskes Pekanbaru Edi Satriawan mengatakan pasien ISPA nonpneumonia umumnya mengalami keluhan seperti batuk, pilek, hingga radang tenggorokan.

“Yang pneumonia hanya sembilan orang, selebihnya nonpneumonia,” kata Edi.

Sementara itu, kasus ISPA pada Juli 2026 tercatat jauh lebih tinggi, yakni mencapai 5.325 kasus. Sebanyak 5.305 kasus di antaranya merupakan ISPA nonpneumonia dan 20 kasus lainnya merupakan pneumonia.

Komentar