Pekanbaru (Riaunews.com) – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang muncul terkait informasi pengaruh Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap pendapatan retribusi daerah. Klarifikasi tersebut disampaikan untuk meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Provinsi Riau apabila terdapat informasi serta penyampaian data yang anomali sehingga menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Untuk itu, saya ingin meluruskan berita yang beredar agar tidak menjadi informasi yang tidak akurat di masyarakat,” kata SF Hariyanto.
Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Riau mendukung penuh pelaksanaan Program MBG karena dinilai memberikan manfaat besar, termasuk mendukung efisiensi anggaran daerah. Menurutnya, program tersebut memungkinkan penghematan anggaran sekitar Rp45 miliar per tahun yang sebelumnya digunakan untuk biaya makan dan minum sekolah berasrama (boarding school).
“Untuk itu kita mendukung program MBG karena bersinergi dengan semangat efisiensi APBD. Hal itu terbukti dengan adanya program MBG, kita bisa menghemat anggaran sebesar Rp45 miliar per tahun,” ujarnya.
Kesalahan Input Data Jadi Penyebab
Terkait isu penurunan retribusi kantin sekolah, SF Hariyanto memastikan Program MBG tidak memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan daerah. Ia menyebut kontribusi retribusi kantin terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara keseluruhan hanya sekitar 0,01 persen.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendukung rencana Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengaktifkan kembali kantin sekolah. Menurutnya, Program MBG justru memberikan dampak ekonomi yang lebih luas karena melibatkan sektor pertanian, peternakan, perikanan, UMKM, hingga jasa distribusi.
Berdasarkan hasil penelusuran, polemik tersebut terjadi akibat kesalahan input data dari Dinas Pendidikan Provinsi Riau terkait kontribusi retribusi kantin sekolah yang dilaporkan kepada Badan Pendapatan Daerah (Bapenda).
“Jadi sekali lagi kami tegaskan tidak ada pengaruh dari program MBG untuk penurunan retribusi daerah. Semoga penjelasan ini dapat dipahami dan tidak menjadi bola liar di publik,” tegas SF Hariyanto.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Teza Darsa, mengakui pihaknya telah keliru dalam menyampaikan laporan prognosis yang kemudian menjadi dasar informasi yang diterima Bapenda.
“Kami telah keliru dalam menyampaikan Program MBG sebagai penyebab turunnya pendapatan retribusi kantin sekolah. Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak Plt Gubernur Riau, Bapenda Provinsi Riau, dan masyarakat Riau atas kesalahan dalam penyampaian laporan tersebut,” ujar Teza.







Komentar