Jakarta Masuk Tiga Besar Kota dengan Udara Terburuk di Dunia

Lingkungan, Nasional878 Dilihat

Jakarta (Riaunews.com) – Kualitas udara di Jakarta pada Selasa (15/7) pagi tercatat tidak sehat dan menjadikan ibu kota Indonesia itu menempati peringkat ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.56 WIB, indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) di Jakarta mencapai angka 164. Angka tersebut masuk dalam kategori “tidak sehat” dengan konsentrasi polusi udara PM2.5 sebesar 74 mikrogram per meter kubik.

Menurut IQAir, kategori tersebut dapat membahayakan kesehatan kelompok sensitif, termasuk anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan, dan juga berpotensi merusak tumbuhan maupun nilai estetika lingkungan.

Terkait kondisi tersebut, IQAir merekomendasikan masyarakat untuk menghindari aktivitas di luar ruangan. Jika harus berada di luar, disarankan untuk menggunakan masker dan menutup jendela rumah guna mencegah paparan udara kotor.

Sebagai pembanding, kategori kualitas udara “baik” memiliki rentang PM2.5 sebesar 0-50 dan dianggap tidak menimbulkan efek kesehatan. Sementara kategori “sedang” berada di rentang 51-100 dan mulai berdampak pada tumbuhan sensitif. Kategori “sangat tidak sehat” memiliki rentang 200-299 dan “berbahaya” pada angka 300-500, yang secara umum bisa menimbulkan risiko serius bagi kesehatan.

Peringkat kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada pagi ini dipimpin oleh Kinshasa, Kongo-Kinshasa dengan AQI 208, disusul Santiago, Chile (170), Jakarta (164), Toronto, Kanada (156), dan Al-Manamah, Bahrain (154).

Sebagai respons terhadap permasalahan ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta meluncurkan platform pemantau kualitas udara terintegrasi. Platform ini didukung oleh 31 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta.

Platform baru ini bertujuan menyempurnakan sistem pemantauan sebelumnya dan telah disesuaikan dengan standar nasional. Data yang ditampilkan berasal dari kolaborasi antara DLH Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), World Resources Institute (WRI) Indonesia, dan Vital Strategies.

Dengan adanya pemantauan terintegrasi ini, diharapkan masyarakat dapat lebih sadar terhadap kondisi udara di sekitarnya dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak buruk polusi.

Komentar