Pelalawan (Riaunews.com) – Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) menghadirkan program wisata edukasi berbasis konservasi gajah Sumatera sebagai upaya menjaga kelestarian satwa dilindungi. Program ini tidak hanya menawarkan rekreasi, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga populasi gajah yang terus terancam.
Di kawasan TNTN, terdapat tujuh gajah jinak yang terdiri dari gajah dewasa hingga anakan. Satwa tersebut dirawat oleh 16 petugas, mulai dari mahout, polisi kehutanan hingga dokter hewan. Selain menjadi daya tarik wisata, gajah jinak juga dimanfaatkan untuk membantu mitigasi konflik antara gajah liar dan manusia yang kerap terjadi akibat menyempitnya habitat.
Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro, mengatakan program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi.
“Gajah jinak ini menjadi daya tarik bagi pengunjung, mulai dari melihat langsung hingga memberi makan. Dari situ kita harapkan tumbuh kesadaran untuk ikut menjaga dan melestarikan habitat gajah,” ujarnya.
Populasi Terancam, Habitat Terus Menyusut
Berdasarkan data Balai TNTN, populasi gajah liar di kawasan tersebut kini hanya tersisa sekitar 150 ekor. Dalam tiga tahun terakhir sejak 2024, kasus kematian gajah masih ditemukan, dengan penyebab utama perburuan gading.
Upaya konservasi juga menghadapi tantangan besar akibat penyusutan kawasan hutan. Dari total luas sekitar 81 ribu hektare, hutan yang tersisa kini kurang dari 20 ribu hektare. Penyusutan ini dipicu oleh maraknya perambahan hutan yang dialihfungsikan menjadi kebun kelapa sawit ilegal.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada menurunnya populasi satwa liar, termasuk gajah Sumatera yang semakin kehilangan habitatnya. Saat ini, tim Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan terus melakukan pemulihan fungsi konservasi guna mengembalikan habitat alami satwa sekaligus menekan konflik antara manusia dan gajah.







Komentar